Polisi Ringkus Pemuda Mabuk Sambil Membawa Badik dan Senjata Rakitan di Mubar

SultraNET., raha | Anggota Kepolisian Polres Muna bersama Polsek Tikep, Kabupaten Muna Barat menangkap Baharudin warga Desa Wulanga Jaya Kecamatan Tiworo Kepulauan (Tikep) Kabupaten  Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Kapolres Muna, AKBP Agung Ramos Parentongan Sinaga melalui Kasat Reskrim, AKP Muh. Ogen Sairi pada awak media, rabu 7 Agustus 2019 menjelaskan bahwa tersangka di tangkap di Desa Wulangga pada hari selasa (06/8/2019) sekitar jam 21.30 wita.

Penangkapan tersebut berdasarkan laporan masayarakat karena tersangka dalam keadaan mabuk minuman keras, mengamuk sambil membawa senjata api rakitan laras pendek dan senjata tajam jenis parang dan badik sehingga meresahkan Masyarakat.

“Tersangka saat ini sudah diamankan di Polres Muna untuk proses lebih lanjut dan tersangka belum diketahui persis dari mana tersangka mendapatkan Senpi tersebut. Saat ini, Polisi terus melakukan pemeriksaan,” beber AKP Muh. Ogen Sairi 

Pada kesempatan tersebut AKP Ogen Sairi menyampaikan himbauan Kapolres Muna kepada masyarakat agar jika keluar rumah tidak membawa senjata tajam, yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Larangan membawa sajam itu, untuk mencegah penyalahgunaan yang bisa secara spontan maupun berencana memungkinkan orang melakukan tindak pidana, apalagi orang yang membawa senjata tajam tersebut temperamental.

“Terlebih lagi jika dalam kondisi mabuk, perbuatannya bakal tidak terkontrol, dan membahayakan orang lain,” tutupnya Agung.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya, tersangka dijerat UU Darurat nomor 12 tahun 1951 tentang larangam kepemilikan Senpi secara ilegal dengan Ancaman pidananya 12 tahun penjara. (Borju)




Ramai Warga Mubar Migrasi ke Muna, Bupati Muna : Mereka Rata-Rata ASN dan Honorer yang Tidak Nyaman di Mubar

SultraNET, raha | Ramai warga Kabupaten Muna Barat, (Mubar) yang melakukan perpindahan penduduk ke Kabupaten Muna disambut baik oleh Bupati Muna, LM Rusman Emba.

Hal tersebut terungkap setelah orang nomor satu di bumi sowite itu mengecek jumlah penduduk yang pindah domisili di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara ( Sultra ) pada hari Senin, (5/8/2019).

Dari data Disdukcapil terungkap bahwa rata-rata warga yang melakukan pindah domisili adalah berprofesi sebagai Tenaga Honorer dan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Masyarakat Muna Barat (Mubar).

“Berdasarkan informasi di Disdukcapil, umumnya yang pindah adalah honorer yang dipecat di Mubar. Kemudian, ASN yang dimutasi ke wilayah pelosok, alasan mereka pindah karena tidak nyaman di Mubar,” ungkapnya.

Untuk itu, Mantan anggota DPD RI itu menyambut baik banyaknya warga yang kembali di daerahnya itu, menurutnya semakin banyak yang pindah di daerah itu, bakal berdampak pada peningkatan Dana Alokasi Umum (DAU) yang dikucurkan oleh pemerintah pusat.

Ditempat yang sama Kadisdukcapil Muna, Abdul Munir mengatakan, perpindahan penduduk merupakan hal yang dibolehkan. Hanya saja, mereka harus lebih selektif lagi. Utamanya ASN Mubar yang sebelumnya dari Muna pindah domisili tugas.

“Kalau ASN Mubar yang ingin pindah domisili, kita tanyakan alasannya. Kalau alasanya rumahnya disini (muna.red), tidak jadi soal kalau KTP-nya di Mubar,” ucap Munir.

Untuk diketahui jumlah warga wilayah kekuasaan LM Rajiun Tumada yang “hijrah” kembali ke Kabupaten Muna dari Oktober 2018 hingga Juli 2019 berjumlah 441 orang. (Borju)




Tingkatkan Kesejahteraan Warganya, Pemdes Puu Nunu Segera Bagikan 10 Kapal Tangkap Ikan

Kabaena, SultraNET. | Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, Pemerintah Desa Puu Nunu, Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara, fokus memaksimalkan penggunaan dana desa (DD) untuk pembenahan Infrastruktur fisik dan pemberdayaan di desa yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan.

Jika sebelumnya sukses membangun Gedung Serba Guna Desa dan Membangun Talud Beton, kali ini Pemerintah Desa Puu Nunu bakal membagikan perahu penangkap ikan jenis fiberglass untuk warganya yang berprofesi sebagai penangkap Nelayan.

Kepala Desa Pu’u Nunu, Sahluddin saat dikonfirmasi awak media ini di lokasi pembuatan perahu jenis fiberglass, Minggu (3/8/19), mengatakan, potensi ikan dan pariwisata didaerah itu sangat besar sehingga diharapkan jika dikelola dengan baik dapat meningkatkan kesejahteraan warga desanya.

Untuk itu pihaknya berinisiatif melalui dena desa mencanangkan pengadaan perahu yang telah dilengkapi dengan mesin tersebut agar warganya yang berprofesi sebagai nelayan dapat terbantu dan dimudahkan dalam mencari ikan yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Masih banyak nelayan kami yang kesulitan melaut, ini karena keterbatasan fasilitas, jadi kami berinisiatif memanfaatkan dana desa untuk berikan bantuan berupa perahu fiber ini,” Tutur Sahluddin.

Adapun jumlah bantuan yang bakal dikucurkan yaitu sebanyak 10 unit perahu fiber yang sudah dilengkapi dengan mesin dengan anggaran perunitnya yaitu sebesar 14 juta hingga 15 juta rupiah  yang pengerjaannya dengan meberdayakan warga desa yang berprofesi sebagai pembuat kapal jenis fiber.

“Daripada saya pesan perahunya di tempat lain, takutnya tidak sesuai apa yang di harapkan, jadi saya berdayakan warga saya yang memang berprofesi sebagai pembuat perahu jenis fiberglass,”tuturnya.

Pembuatan Kapal tersebut diperkirakan bakal rampung dan dapat dibagikan pada bulan Agustus tahun 2019 ini. Untuk diketahui, tahun sebelumnya Pemerintah Desa Puu Nunu telah membagikan kapal serupa kepada 5 orang janda yang berprofesi sebagai nelayan di desa tersebut. (FENDI)




Upaya Pemerkosaan Di Kolut Gagal. Terungkap Korban Ternyata Lelaki

Lasusua, SultraNet. | Beruntung upaya Pemerkosaan terhadap Lisa (15) yang masih berstatus pelajar warga Desa Kamisi, Kecamatan Kodeoha, Kabupaten Kolaka Utara tidak berhasil dilakukan oleh terduga pelaku Agus, Warga Desa Rante Limbong, Kecamatan Kodeoha.

Dilansir dari laman fb Beritaku.com, Kejadian bermula Pada hari Kamis, (01/08/2019) sekitar pukul 20.00 Wita, korban dijemput oleh seorang lelaki bernama Cilonk menuju ke area by Pass Lasusua.

Selanjutnya sekitar pukul 20.45 Wita, ditempat tersebut korban kemudian dijemput oleh Agus menuju ke Desa Rante Limbong.

Pukul 21.00 Wita korban tiba dirumah Terduga Pelaku dan langsung masuk ke kamar dan Agus kemudian kembali keluar meninggalkan rumah.

Sekitar pukul 23.45 Wita Agus kembali kerumah dan langsung masuk kamar dan mencium korban (bekas cuppang pada leher).

Namun sekitar 03.00 Wita, (2/8/2019) korban melarikan diri karena pelaku mencoba membuka celana korban dan akan melakukan percobaan pemerkosaan.

Pukul 03.30 Wita tepatnya dijembatan Desa Rante Limbong korban ditemukan oleh Anggota Polres Kolut selanjutnya korban dibawa ke Kantor Polres untuk ditindak lanjuti.

Kejadian tersebut diduga terjadi akibat pengaruh media sosial dan kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak, beruntung korban bisa melarikan diri sehingga tidak terjadi TP Pemerkosaan.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terungkap fakta yang mengejutkan dimana Korban (lisa) bukan melarikan diri akan tetapi korban di usir oleh Agus karena telah sadar bahwa korban Lisa berjenis kelamin Laki-laki. (int)




Hasil Melimpah, Panen Raya Rumput Laut Libatkan Pemda Wakatobi

Wakatobi, SultraNET. | Panen Raya rumput laut Masyarakat yang di gelar di lapangan desa Liya Bahari indah turut melibatkan pemerintah Daerah Wakatobi, Senin (29/07/2019).

Panen rumput laut seliya raya ini merupakan keinginan masyarakat petani rumput laut sebagai rasa syukur kepada Allah dengan besarnya peningkatan hasil produksi, jumlah pembudidaya, meningkatnya pendapatan dan pengetahuan pola taman serta adanya dukungan pemda wakatobi dan stekholder.

Jumlah pembudidaya rumput laut ini setelah dua tahun terakhir yang sebelumnya hanya 87 rumah tangga nelayan sekarang menjadi 176 rumah tangga nelayan. Peningkatan hingga capai seratus persen tersebut dipengaruhi oleh bibit yang digunakan. Jika sebelumnya menggunakan bibit spinosum dengan hasil produski hanya capai 100 ton, kini dengan menggunakan bibit kotoni para pembudidaya mampu menghasilkan 201 ton rumput laut.

“Sebelumnya hasil produksi dibawah 100 ton perbulan dimasa puncak panen seperti ini sekarang lebih dari 200 ton perbulan. Sebelumnya hanya menggunakan bibit spinosum dengan harga yang lebih murah sekarang mulai menggunakan bibit kotoni yang lebih mahal”ujar kepala dinas kelautan dan perikanan, Jalaluddin saat membawakan sambutannya.

Bupati wakatobi di waktu yang sama mengatakan, pemerintah daerah akan terus mensuport tiga klaster visi misi kabupaten wakatobi yaitu maritim, sejahtera dan berdaya saing. Hal itu diutarakan sebab wakatobi pada potensinya memiliki luas lautan yang capai 97 persen sedang daratan hanya 3 persen.

“Tiga kekuatan untuk dapat mensejahterakan masyarakat kita yaitu potensi dipermukaan laut yakni pedagangan antara pulau, tengah laut seperti budidaya rumput laut dan dasar laut yaitu pariwisata,”jelasnya.

Selain besarnya motivasi masyarakat dalam mengembangkan potensi rumput laut, disisi lain bupati wakatobi juga terus mengapresiasi dan mendukung berbagai pihak khususnya yang berorientasi pada pertumbuhanan Ekonomi pembudidaya rumput laut baik berupa modal, bibit dan pelatihan pemasaran terhadap stekholder.

“Kita perlu meningkatkan sumber daya manusia dalam pengelolaan sumber daya rumput laut ini. Alhamdulillah dengan adanya NSLIC dan WWF masuk ke daerah kita, akhirnya dapat membuahkan hasil seperti yang sedang kita lihat bersama-sama ini,”ucapnya.

Besarnya peningkatan hasil rumput laut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, dalam panen raya rumput laut, NSLIC turut memakerkan rumput laut yang dinamakan F1. Jenis ini dihasilkan melalui hasil kultur jaringan yang diberikan PT. Baruna Sejahtera sebanyak 150 Kilogram. Alhasil, dari tiap 1 Kg bibit rumput laut mampu menghasilkan 5 Kg rumput laut tiap panennya.

Setelah menggelar kegiatan secara seremonial pemda wakatobi yang dipimpin bupati wakatobi turut terlibat melakukan panen rumput laut bersama masyarakat.

Diketahui dalam kegiatan tersebut turut hadir wakil direktur National Support Local investment Climate (NSLIC) Feri Junifer, Perwakilan WWF, serta perwakilan dari kampus kelautan dan perikanan Wakatobi.

Laporan ; Samidin




Tidak Butuh Lama, Pemkab Bombana Siap Bangunkan Rumah Nenek Bungadia

Rumbia, SultraNET. | Keluhan Nenek Bungadia, warga Desa Ladumpi, Kecamatan Rarowatu, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara yang mengharap dapat menerima bantuan perumahan Baruga Moico dari pemerintah akhirnya direspon cepat Dinas Perumahan setempat dengan memastikan bantuan rumah tersebut dikerjakan tahun 2019 ini.

Kabar gembira tersebut disampaikan oleh Sulaiman Fachrani, SH., MM. Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Kabupaten Bombana saat dihubungi awak media SultraNET.via Whattshap, Senin (29/7/2019).

“Kami sudah lakukan ferivikasi lapangan dan semua tidak ada kendala,” Ungkap Sulaiman Fachrani

Untuk itu, pihaknya tinggal menunggu proses pengadaan bahan bangunan saja setelah itu pekerjaan rumah baruga moico sudah dapat dikerjakan.

“Kita tinggal menunggu pengadaan bahan saja, prosesnya semua sudah dilelang dan pemenang juga sudah ada, tinggal menunggu bahan ada dan langsung dikerjakan,” bebernya

Bukan itu saja, untuk tahun ini juga tambah Sulaiman, Rumah Korban Kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu yang membakar habis beberapa rumah yang berada di Desa Lantawonua, Kecamatan Rumbia dan Rumah Korban Kebakaran yang terletak di Desa Mawar, Kecamatan Mataoleo juga bakal dikerjakan.

“Tahun ini juga baik Rumah nenek bungadia maupun rumah korban kebakaran akan kami kerjakan,” Pungkasnya (Efendy)




Pembangunan Jetty PT. AMI Ancam Rusak Zona Tangkap Ikan Nelayan Bombana

Rumbia, SultraNET. | Pembangunan Pelabuhan Khusus (Jetty) yang diduga dilakukan oleh PT. Artha Mining Industry (PT.AMI) sebuah perusahaan konsorsium yang saat ini dalam proses pembangunan Pabrik Pemurnian Biji Nikel di Desa Liano, Kecamatan Mataoleo, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara itu dinilai dapat merusak lingkungan serta zona tangkap ikan nelayan setempat.

Hal tersebut disampaikan Ansar Ahmad selaku Ketua Divisi Investigasi LSM Pemersatu Barisan Anti Korupsi (LSM-Perisai) Kabupaten Bombana, Sabtu (27/07/2019), menurutnya pembangunan yang dilakukan di Area Zona Tangkap Nelayan itu berpotensi menghilangkan mata pencaharian nelayan setempat.

“Kalau pembagunan Jetty di area itu terus dilanjutkan pembangunannya, yakin saja bahwa Zona tangkap ikan dan pencaharian nelayan pasti hilang disitu,” Ucap Aktivis Pegiat Lingkungan dan Anti Korupsi itu.

Apalagi lanjut Ansar, setelah pihaknya bersama beberapa awak media dan aktivis Aliansi Pemerhati Masyarakat Mataoleo (APMM) melakukan investigasi langsung di Area pembangunan Jetty tersebut, ditemukan banyak kejanggalan bahkan ketika hendak memasuki area tersebut mereka tidak diberikan izin masuk dengan alasan yang tidak jelas

“Kami mohon maaf, kami sudah telpon direktur dan kami diperintahkan agar tidak memberikan izin untuk masuk,” Tutur Ansar menirukan penolakan security penjaga pos masuk.

Untuk itu, pihakya berharap agar Pemerintah khususnya Kementerian Perikanan Republik Indonesia dapat mengambil sikap untuk mencegah terjadi kerusakan ekosistem laut diwilayah zona tangkap ikan terbesar di Kabupaten Bombana itu.

“Saya harap kementerian Perikanan khususnya Ibu Menteri Perikanan, Susi Pudjiastuti agar dapat turun diarea ini, karena ini sebenarnya sangat fatal membangun di Zona Tangkap Ikan bisa mematikan penghasilan Nelayan.” Pungkasnya. (IS)




Pukat Sultra Harap CSR Perusahaan Tambang di Pulau Kabaena Dievaluasi

“Khususnya di Pulau Kabaena, terdapat banyak  perusahaan yang melakukan Investasi, namun masih saja ada orang tua yang tidak bisa menyekolahkan anaknya, hal seperti ini mestinya harus dijemput oleh investor”, ujarnya.

Kendari, SultraNET. | Pusat Kajian dan Advokasi Tambang (Pukat) Sulawesi Tenggara (Sultra) berharap agar pengelolaan Dana Coorprate Sosial Responsibility (CSR) dari puluhan perusahan Tambang di Kepulauan Kabena Kabupaten Bombana untuk di pantau dan dievaluasi oleh seluruh stakeholder terkait.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Eksekutif Pukat Sultra, Muh. Amsar pada acara Launcing Diskusi Tematik dan Cofee Morning yang digelar oleh Forum Kemitraan CSR pada Senin (22/7/2019) disalah satu Kadai Cofee di Kota Kendari.

Menurutnya kehadiran Perusahan tambang di sekitar masyarakat diberbagai derah seluruh Indonesia seharusnya memberikan dampak positif terhadap ekonomi dan juga Sumber daya manusia masyarakat sekitar.

“Khususnya di Pulau Kabaena, terdapat banyak  perusahaan yang melakukan Investasi, namun masih saja ada orang tua yang tidak bisa menyekolahkan anaknya, hal seperti ini mestinya harus dijemput oleh investor”, ujarnya.

Mantan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam itu berharap agar penolakan masyarakat di Kabupaten Konawe Kepulauan terhadap aktifitas pertambangan yang dinilai tidak membawa manfaat bagi masyarakat sekitar menjadi pelajaran penting bagi para investor untuk memperhatikan tanggung jawab sosial masyarakatnya.

Sehingga diharapkannya dengan terbentuknya Forum Kemitraan CSR tersebut dapat menjadi sarana untuk mengevaluasi penyaluran CSR pertambangan khususnya di Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana.

“Saya titip, kedepannya melalui forum kemitraan ini, pengelolaan dan penyaluran CSR kepada masyarakat dipulau kabaena dipantau dan dievaluasi”, pungkasnya.




Kisah Nenek Bungadia, Harap “Baruga Moico” Dari Pemerintah

Rumbia, SultraNET.com | Nenek Bungadia, Seorang Lansia Warga Desa Ladumpi, Kecamatan Rarowatu, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara, menjadi saksi potret kemisikinan di sekitar kita.

Bahkan untuk menyambung hidup, wanita yang diperkirakan berumur hampir satu abad itu, kini hanya mengandalkan belas kasih dari warga sekitar.

Sebagaimana dilansir sultratopzone.com, Pondok berukuran kecil tempat nenek berlindung merupakan hasil dari patungan warga sekitar, sedangkan untuk penerangan nenek bunga medapatkan bantuan dari seorang dermawan.

Saat orang lain berbahagia menanti hari raya idul adha tahun ini, nenek yang hidup sebatang kara ini  justru memanjatkan doa yang tidak biasa.

“Mungkin saya berdosa, tapi mau diapa. Saya minta doa supaya saya dipanggil Allah secepatnya”. Tutur sang nenek dengan lirih disertai cucuran air mata, seolah lelah dengan nasib yang dialaminya, sabtu (01/7/19).

Diusianya tua membuat fisiknya sudah tidak sejalan dengan keinginannya, tidak jarang nenek bunga menembus pagi karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

“ saya tidak sanggupmi kasian, sakit sekali saya rasa. Sering saya tidak tidur sampai pagi karena saya tahan sakitnya”. Keluhnya.

Ditanya persiapannya untuk hari lebaran, nenek bunga kembali tertunduk dan hanya mengucapkan beberapa kalimat yang penuh dengan iba.

“saya bisa apa kasian, saya tidak punya apa-apa, mau lebaran saya hanya bisa liat orang lain senang tapi saya hanya tinggal diam di sini”. Tuturnya dengan tersedu sembari menghapus air matanya.

Tak sampai di situ, nenek yang hidup dengan beberapa ekor kucing peliharaannya ini memiliki satu permintaan, ia berharap dapat diberi bantuan rumah yang layak untuk tempat ia berteduh.

Bungadia, Warga Desa Ladumpi, Kec. Rarowatu saat dikunjungi awak media baru-baru ini dipondok tempat tinggalnya
Bungadia, Warga Desa Ladumpi, Kec. Rarowatu saat dikunjungi awak media baru-baru ini dipondok tempat tinggalnya

“kalau bisa kasian saya hanya mau supaya tempat tinggalku ini supaya bagus, di sini saya sama-sama tidur dengan ayam, di tempat tidurku kotor karena tai (kotoran) ayam, karena di atas tempatnya bermalam ayam”. Pintanya.

Terlebih lagi tutur nenek Bungadia, rumah layak huni yang oleh Pemerintah Kabupaten Bombana dinamai Baruga Moico itu pernah dijanjikan pemerintah kepada nenek Bungadia sekitar satu tahun yang lalu namun hingga kini belum ada kejelasan terkait bantuan itu.

“kalau bisa bantu saya kasian, dulu ada yang pernah bersihkan di samping katanya mau dibikinkan rumah bantuan, tapi sudah adami satu tahun belum ada juga”. Tambahnya. 

Hingga berita ini dirilis, belum ada konfirmasi dari pemerintah setempat maupun dinas terkait (TS)




BPS : Pertumbuhan Ekonomi Wakatobi Lebih Baik Dibanding Ekonomi Nasional

Wakatobi, SultraNET. | Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara Towedy Marthinus Layico menyampaikan, dari data (BPS) beberapa tahun belakangan perekonomian kabupaten Wakatobi masih lebih baik dibanding ekonomi nasional, Selasa (23/07/2019).

Mantan pegawai BPS Sultra tersebut mengungkapkan, jika pertumbuhan perekonomian indonesia pada tahun 2017 hanya mencapai 5,07% Wakatobi justru mengalami pertumbuhan diangka presentase yang lebih tinggi yakni mencapai 5,96%.

Belum lagi kata Dia, dihitung dari berbagai sektor pada tahun 2018 ini Perekonomian Wakatobi diprediksikan Badan Pusat Statistik bakal mengalami pertumbuham mencapai 6,5%.

“Memang jika dibandingkan dengan angka presentase provinsi Sultra Wakatobi masih lebih rendah. tercatat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara Tahun 2017 sebesar 6,81 Persen,”ungkapnya.

Towedy Marthinus Layico menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Wakatobi dapat dilihat berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Katanya, ada dua faktor besar yang mempengaruhi perekonomian, yaitu faktor kinerja produksi dan kinerja retribusi.

Dengan melihat presentase pertumbuhan perekonomian Wakatobi tersebut, Kepala BPS menambahkan bahwa perekonomian di daerah pimpinan Arhawi ini tidak bisa dikatakan anjlok. Pasalnya, angka-angka tersebut bukan merupakan presentase yang terbilang negatif melainkan masih merupakan angka presentase ekonomi yang positif.

“Perekonomian kita ini tumbuh. yang tidak bisa dibilang tumbuh hanya terjadi pada tahun 98 yang mana terjadi inflasi secara besar-besaran dan jika wakatobi dibilang anjlok saya tidak setuju” pungkasnya.

Laporan : Samidin