RSUD Bombana Lepas dr. Septian Yudo

Bombana, sultranet.com – Suasana haru mewarnai RSUD Kabupaten Bombana pada Senin, 28 April 2025. Salah satu dokter terbaik rumah sakit tersebut, dr. Septian Yudo Pradana, Sp.JP, FIHA, resmi dilepas setelah mengabdi memberikan layanan kesehatan jantung bagi masyarakat Bombana.

Pelepasan ini menjadi momen penuh emosi, bukan hanya karena perpisahan, tetapi karena besarnya kesan dan kontribusi yang telah ditinggalkan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah itu selama bertugas di Bombana.

Direktur BLU RSUD Kabupaten Bombana, drg. Riswanto, M.KM, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas dedikasi dan profesionalisme dr. Septian selama ini. Ia menyebut kehadiran dr. Septian membawa banyak perubahan positif, baik dalam pelayanan medis maupun suasana kerja di lingkungan rumah sakit.

“Selama bertugas di RSUD ini, dr. Septian telah memberikan kontribusi luar biasa. Tidak hanya dalam pelayanan medis, tetapi juga dalam membangun semangat profesionalisme, kerja sama, dan kekeluargaan di lingkungan rumah sakit kita tercinta,” ujar drg. Riswanto.

Menurutnya, banyak pasien yang merasa terbantu, bahkan sembuh, berkat tangan dingin dan ketulusan dr. Septian dalam merawat mereka. Ia pun mengakui bahwa perpisahan ini bukan hal yang mudah, mengingat hubungan yang telah terjalin erat antara dr. Septian dengan seluruh civitas RSUD Bombana.

“Banyak keluarga yang kembali tersenyum karena beliau. Ini bukan perpisahan biasa. Ini pelepasan dengan rasa bangga atas dedikasi luar biasa dari seorang dokter yang benar-benar hadir untuk pasien dan rumah sakit,” ucapnya.

Dalam momen perpisahan itu, seluruh keluarga besar RSUD menyampaikan ucapan terima kasih, doa, dan permohonan maaf atas segala kekhilafan selama bekerja bersama. Mereka berharap dr. Septian selalu mendapatkan kesuksesan dan keberkahan di tempat tugas yang baru.

“Mohon maaf atas segala kekhilafan, baik dalam tutur kata maupun perbuatan. Doa terbaik kami menyertai dr. Septian. Semoga selalu diberikan kesuksesan, kesehatan, dan keberkahan dalam setiap langkah,” ungkap drg. Riswanto mewakili jajaran manajemen dan staf RSUD Bombana.

dr. Septian Yudo Pradana, Sp.JP, FIHA sendiri dikenal sebagai sosok yang berdedikasi tinggi dan memiliki kepedulian besar terhadap pasien. Selama bertugas di RSUD Bombana, ia tak hanya fokus pada tugas klinis, tetapi juga turut mendorong peningkatan mutu pelayanan jantung dan menjadi inspirasi bagi tenaga medis lainnya.

Kepergian dr. Septian dari RSUD Bombana tentu meninggalkan ruang yang tak mudah untuk diisi. Namun, jejak kebaikan dan dedikasinya akan tetap hidup dalam semangat kerja para tenaga medis di Bombana, serta menjadi teladan dalam memberikan pelayanan yang humanis dan berkualitas bagi masyarakat.

RSUD Bombana pun berkomitmen untuk terus menjaga kualitas layanan kesehatan, khususnya di bidang kardiologi, serta meneruskan semangat yang telah diwariskan oleh dr. Septian.

Momen perpisahan ini menjadi pengingat bahwa pengabdian yang tulus akan selalu membekas, dan sosok seperti dr. Septian akan terus dikenang sebagai bagian dari perjalanan penting pelayanan kesehatan di Bombana.




Pemprov Sultra Ikuti Rakor Inflasi Nasional

Kendari, Sultranet.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri RI). Kegiatan ini dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting dari Ruang Rapat Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Sultra, Senin, 28 April 2025.

Rakor yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir, dari Kantor Pusat Kemendagri di Jakarta, bertujuan menguatkan sinergi antarinstansi dalam mengendalikan inflasi di daerah. Hadir sebagai narasumber pejabat lintas kementerian seperti Deputi BPS Puji Ismartini, Deputi III KSP Edy Priyono, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi, serta perwakilan dari Kemendag dan Perum Bulog.

Sejumlah perwakilan instansi di Sultra turut serta dalam rakor ini, termasuk dari BPS, Bank Indonesia, Bulog, Dinas Ketahanan Pangan, dan dinas teknis lainnya. Fokus utama rakor adalah menjaga stabilitas harga bahan pokok di tengah dinamika harga komoditas yang fluktuatif.

“Pemerintah daerah harus turun langsung ke lapangan, pantau harga-harga di pasar, lakukan koordinasi intensif, operasi pasar, hingga pemberian subsidi transportasi jika diperlukan,” tegas Tomsi Tohir dalam arahannya.

Ia menekankan pentingnya pemetaan komoditas unggulan penyumbang inflasi di tiap daerah. Menurutnya, inflasi nasional memang sudah terkendali, namun kewaspadaan di tingkat lokal tetap krusial.

“Kita tidak boleh lengah, karena inflasi di daerah bisa berdampak pada daya beli masyarakat. Jaga harga, utamakan aksi konkret, bukan sekadar laporan,” imbuhnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Puji Ismartini, dalam paparannya menyampaikan bahwa pada minggu keempat April 2025, terdapat 18 provinsi yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH), sementara 20 lainnya mengalami penurunan. Komoditas seperti bawang merah dan cabai merah menjadi penyumbang utama lonjakan harga di berbagai daerah.

“Rata-rata harga bawang merah tercatat naik 8,09 persen secara nasional dibandingkan Maret, dan sudah melampaui Harga Acuan Penjualan,” ungkap Puji.

Harga cabai merah juga naik 5,04 persen, sementara bawang putih mengalami kenaikan sebesar 1,39 persen. Di sisi lain, harga cabai rawit turun 8,10 persen dan Minyakita menurun tipis sebesar 0,37 persen, meski tetap berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Dalam konteks Sultra, Kabupaten Wakatobi menjadi salah satu daerah dengan lonjakan IPH tertinggi secara nasional di luar Jawa dan Sumatera, mencapai 4,52 persen. Bawang merah, cabai merah, dan beras menjadi komoditas utama penyumbang kenaikan harga di wilayah tersebut.

Rakor ini menjadi forum penting untuk memperkuat koordinasi dan mempercepat respons daerah terhadap gejolak harga yang bisa berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Pemerintah daerah diharapkan lebih proaktif dan responsif dalam menerapkan strategi pengendalian inflasi.

Langkah-langkah seperti intervensi pasar, penguatan distribusi pangan, serta sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk mengamankan harga bahan pokok, terlebih menjelang musim paceklik dan hari besar keagamaan.

Pemprov Sultra bersama TPID menegaskan komitmennya untuk terus memantau kondisi harga di pasar, mengambil langkah antisipatif, serta bekerja sama erat dengan stakeholder terkait agar daya beli masyarakat tetap terjaga.




Bati Tuud Koramil 02/Kabaena Peltu Muh. Haris bersama Warga Melaksanakan Kerja Bakti Pembersihan Parit

Bombana, SultraNET.| — Bati Tuud Koramil 1431-02/Kabaena, Peltu Muh. Haris, bersama warga Lingkungan 2 Teomokole, Kelurahan Teomokole, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, melaksanakan kerja bakti pembersihan parit, Senin (28/04). Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya banjir akibat penyumbatan drainase, terutama di musim hujan.

Dalam kegiatan tersebut, hadir Babinsa Koramil 1431-02/Kabaena yang dipimpin langsung oleh Peltu Muh. Haris, Lurah Teomokole Bapak Muh. Gazali Aziz, S.Si, serta masyarakat Lingkungan 2 Kelurahan Teomokole. Sinergi antara aparat TNI dan warga diharapkan dapat menjaga kebersihan lingkungan dan memperlancar aliran air.

Peltu Muh. Haris mengatakan, kerja bakti ini merupakan upaya konkret untuk mengantisipasi terjadinya banjir di wilayah setempat.

“Dengan membersihkan parit secara bersama-sama, kami ingin menciptakan lingkungan yang bersih dan aman dari genangan air,” ucapnya.

Sementara itu, Danramil 1431-02/Kabaena, Kapten Inf Efendi, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat gotong royong warga.

“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat,” ujar Danramil.

Lurah Teomokole, Muh. Gazali Aziz, S.Si, juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Babinsa dan seluruh warga yang berpartisipasi.

“Dengan kerja bakti ini, kami berharap lingkungan tetap bersih dan masyarakat semakin peduli terhadap kebersihan drainase,” pungkasnya.




Sekda Sultra: Kematangan Usia Provinsi Harus Tercermin dalam Pelayanan Publik

Kendari – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. H. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D, memimpin apel gabungan lingkup Pemerintah Provinsi Sultra yang berlangsung di halaman Kantor Gubernur Sultra, Senin pagi, 28 April 2025. Apel rutin ini diikuti oleh seluruh pimpinan dan pegawai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagai wujud kesiapan kerja dan penguatan disiplin aparatur sipil negara.

Dalam amanatnya, Sekda mengawali sambutan dengan menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Provinsi Sulawesi Tenggara yang digelar di Kabupaten Kolaka. Ia menyebutkan bahwa seluruh rangkaian acara berlangsung lancar dan meriah, mulai dari pembukaan hingga penutupan pada malam sebelumnya.

“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh jajaran, terutama kepala OPD, pejabat eselon III dan IV, serta pegawai lainnya yang tetap melaksanakan tugas hingga larut malam dan kembali hadir pagi ini. Ini adalah bentuk nyata komitmen kita sebagai pelayan publik,” ujar Asrun Lio dalam amanat apel.

Ia menekankan bahwa usia 61 tahun bagi Provinsi Sultra mencerminkan kematangan, yang seharusnya juga tercermin dalam peningkatan kualitas kinerja birokrasi dan pelayanan kepada masyarakat. Menurutnya, kematangan usia daerah harus menjadi pijakan untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang profesional, responsif, dan akuntabel.

“Kalau seorang ASN di usia 60 tahun sudah pensiun, maka provinsi kita yang kini berusia 61 tahun harus benar-benar matang dalam bekerja dan melayani,” lanjutnya.

Selain refleksi usia, Sekda juga menyinggung agenda kerja yang semakin padat menjelang akhir bulan April. Ia mengingatkan pentingnya perencanaan yang cermat, pelaksanaan yang disiplin, dan evaluasi yang objektif untuk setiap program dan kegiatan di lingkungan Pemprov Sultra.

“Evaluasi itu penting. Dari situlah kita tahu di mana letak kekurangan dan bagaimana memperbaikinya. Setiap siklus harus kita lalui dengan pembelajaran agar ke depan kita bisa bekerja lebih efektif dan efisien,” tegasnya.

Apel gabungan yang digelar setiap Senin ini dinilai sebagai forum penyegaran semangat kerja dan penyampaian informasi strategis, sekaligus sarana memperkuat koordinasi antarunit kerja di lingkungan pemerintah provinsi. Suasana apel berlangsung tertib dan penuh antusiasme, meski sebagian peserta baru menyelesaikan tugas berat pada akhir pekan sebelumnya.

Usai apel, para peserta kembali ke dinas dan biro masing-masing untuk melanjutkan tugas rutin dan menjalankan program kerja yang telah direncanakan. Kehadiran penuh para pegawai ini menjadi cerminan semangat kerja kolektif yang terus dijaga oleh Pemprov Sultra.

Kegiatan apel gabungan ini juga menjadi bagian dari upaya pembinaan disiplin, semangat pelayanan publik, serta peningkatan kinerja aparatur negara dalam melayani masyarakat secara optimal. Dalam setiap momen reflektif seperti ini, Pemprov Sultra berupaya memperkuat nilai-nilai pengabdian dan profesionalitas.

Dengan semangat kolaborasi dan evaluasi berkelanjutan, jajaran Pemprov Sultra terus menegaskan komitmen mereka untuk menjadikan birokrasi yang adaptif, transparan, dan mampu menjawab tantangan zaman, seiring dengan pertambahan usia provinsi yang semakin matang.




Faried Arasy Ahmadinejad Arham Juara Nasional, Harumkan Sultra di Festival Sains 2025

Bandung, sultranet.com – Faried Arasy Ahmadinejad Arham, siswa MAN Insan Cendekia Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, sukses meraih Juara 1 bidang studi Ekonomi dalam ajang bergengsi Festival Sains Nasional (FSN) 2025 yang digelar pada 25–27 April 2025 di Bandung, Jawa Barat.

Festival ini merupakan kompetisi ilmu pengetahuan tingkat nasional yang mempertemukan para pelajar terbaik dari seluruh provinsi di Indonesia.

Para peserta adalah pemenang seleksi dari tingkat provinsi, sehingga yang bertanding di FSN adalah benar-benar siswa berprestasi dari berbagai daerah.

Kompetisi ini mencakup semua jenjang pendidikan, dari SD, SMP, hingga SMA, dan meliputi berbagai bidang studi umum seperti Matematika, IPA, IPS, Bahasa, serta Ekonomi.

Faried tampil impresif dalam setiap tahap lomba dengan pemahaman materi yang solid, logika yang tajam, serta kemampuan menyampaikan gagasan ekonomi yang sistematis dan berbasis data.

Ia berhasil mengungguli pesaing dari seluruh Indonesia dan dinobatkan sebagai juara 1 nasional.

“Alhamdulillah, ini semua berkat doa orang tua, bimbingan guru, dan semangat belajar yang terus saya jaga. Saya ingin membuktikan bahwa dari daerah pun bisa lahir generasi yang mampu bersaing di level nasional,” ungkap Faried dengan penuh semangat setelah menerima penghargaan. (27/4)

Faried Arasy Ahmadinejad Arham
Faried Arasy Ahmadinejad Arham

Festival Sains Nasional tak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang bertemunya para pelajar dari berbagai penjuru negeri untuk saling menginspirasi dan mempererat rasa persatuan melalui semangat keilmuan.

“Kami berharap FSN dapat menjadi landasan kuat bagi lahirnya generasi muda Indonesia yang berpikir kritis, kreatif, dan cinta terhadap ilmu pengetahuan,” ujar salah satu panitia FSN 2025.

Prestasi Faried Arasy Ahmadinejad Arham tak hanya mengharumkan nama sekolah dan daerah asalnya, tapi juga menjadi inspirasi nyata bahwa tekad, kerja keras, dan ilmu adalah kunci untuk meraih masa depan gemilang.




Busana Adat Moronene Warnai Kehadiran Bupati dan Wakil Bupati Bombana di HUT ke-61 Sultra

KOLAKA, sultranet.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi momentum istimewa bagi seluruh kepala daerah se-Sultra. Dalam upacara yang digelar di Alun-alun 19 November Kolaka, Minggu 27 April 2025, Bupati Bombana Ir. H. Burhanuddin, M.Si dan Wakil Bupati Ahmad Yani, S.Pd., M.Si tampil memukau dalam balutan busana adat Moronene yang khas dan sarat makna budaya.

Didampingi istri masing-masing, Hj. Fatmawati Kasim Marewa, S.Sos dan Henny Setiawati Rachman, S.Pi., MM, keduanya menunjukkan kekompakan dan kebanggaan terhadap identitas lokal Bombana. Kehadiran mereka mencuri perhatian, bukan hanya karena keanggunan busana yang dikenakan, tetapi juga karena semangat pelestarian budaya yang ditunjukkan melalui simbol-simbol adat.

Busana adat Moronene yang mereka kenakan memadukan warna khas dan motif tradisional yang menggambarkan keunikan suku asli Bombana. Tampil berwibawa dan percaya diri, Burhanuddin dan Ahmad Yani menjadi representasi daerah yang tidak melupakan akar budaya di tengah arus modernisasi.

“Peringatan HUT Sultra ke-61 ini adalah momentum untuk bersyukur dan memperkuat komitmen kita dalam membangun daerah. Tapi kita juga tidak boleh melupakan identitas kita sebagai masyarakat Bombana yang kaya akan budaya,” ujar Bupati Burhanuddin kepada awak media usai upacara.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh leluhur, dan menjadikan budaya sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan berkarakter.

“Adat dan budaya bukan hanya warisan, tetapi juga kekuatan yang harus kita jaga dan perkuat. Ini juga menjadi bagian penting dari pembangunan daerah yang berkelanjutan,” tambahnya.

Upacara HUT Sultra ke-61 kali ini berlangsung semarak dengan menampilkan parade budaya dari seluruh kabupaten dan kota se-Sultra. Atraksi seni, pertunjukan tari tradisional, hingga pameran produk lokal turut memeriahkan suasana, memperlihatkan kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara.

Ribuan masyarakat memadati lokasi upacara sejak pagi hari, ikut menyaksikan langsung prosesi yang dihadiri oleh Gubernur Sultra, para kepala daerah, pejabat Forkopimda, tokoh adat, dan pelajar. Acara juga menjadi ajang silaturahmi antara para pemimpin daerah dan masyarakat dalam suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.

Kehadiran para kepala daerah dalam balutan busana adat dari masing-masing daerah menjadi simbol keberagaman yang harmonis di Bumi Anoa. Tidak terkecuali penampilan Bupati dan Wakil Bupati Bombana yang menegaskan pentingnya menjunjung tinggi identitas daerah di ruang-ruang publik yang strategis.

Busana adat Moronene yang dikenakan Burhanuddin dan Ahmad Yani juga menjadi cerminan bahwa pemerintah daerah Bombana memiliki komitmen tinggi terhadap pelestarian budaya lokal. Sebagai suku asli Bombana, Moronene memiliki kekayaan adat dan tradisi yang terus dijaga dan diwariskan lintas generasi.

Melalui partisipasi dalam kegiatan budaya tingkat provinsi seperti HUT Sultra ini, Pemerintah Kabupaten Bombana berharap dapat terus mendorong semangat masyarakat dalam mencintai dan melestarikan budaya sendiri, sekaligus menunjukkan pada dunia bahwa Sulawesi Tenggara memiliki keragaman budaya yang luar biasa.

Peringatan HUT ke-61 Sultra menjadi bukti bahwa budaya tetap menjadi ruh dari setiap pembangunan yang dilakukan. Dengan semangat kebersamaan, Sultra diharapkan terus tumbuh menjadi provinsi yang maju, berdaya saing, dan tetap berakar kuat pada kearifan lokal.




Bupati dan Wakil Bupati Bombana Tampil Anggun dalam Balutan Adat Moronene di HUT Sultra ke-61

KOLAKA, sultranet.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi momen bersejarah yang dirayakan meriah oleh seluruh kepala daerah se-Sultra. Dalam upacara yang digelar di Alun-alun 19 November Kolaka, Minggu, 27 April 2025, kehadiran Bupati Bombana Ir. H. Burhanuddin, M.Si bersama istri Hj. Fatmawati Kasim Marewa, S.Sos serta Wakil Bupati Ahmad Yani, S.Pd., M.Si bersama istri Henny Setiawati Rachman, S.Pi., MM mencuri perhatian publik.

Tampil anggun dan penuh wibawa dalam balutan busana adat Moronene, pasangan pimpinan daerah Bombana ini tak hanya menunjukkan penghargaan terhadap tradisi, tetapi juga menegaskan pentingnya menjaga kekayaan budaya lokal. Busana yang mereka kenakan didominasi warna khas Moronene dengan motif-motif tradisional yang kaya makna, menjadi simbol identitas suku asli Bombana yang hingga kini masih lestari.

“Ini bukan sekadar pakaian adat, tapi bentuk nyata penghormatan kami terhadap leluhur dan kearifan lokal Bombana yang harus terus dilestarikan,” ujar Burhanuddin usai upacara.

Ia menegaskan bahwa HUT ke-61 Provinsi Sulawesi Tenggara bukan hanya tentang perayaan seremonial, tetapi juga refleksi bersama atas perjalanan panjang daerah ini menuju kemajuan. Burhanuddin mengajak seluruh masyarakat Sultra, khususnya Bombana, untuk terus menjaga persatuan, menggali potensi lokal, dan menjadikan budaya sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

“HUT Sultra ke-61 ini adalah momentum untuk bersyukur dan berkomitmen lebih kuat dalam membangun daerah dengan tetap menjunjung tinggi adat dan budaya kita,” kata Burhanuddin dengan semangat.

Rangkaian kegiatan peringatan HUT Sultra kali ini juga diwarnai dengan berbagai atraksi budaya dari seluruh kabupaten/kota, parade busana adat, hingga pameran hasil karya daerah. Kemeriahan tersebut tidak hanya menambah semarak suasana, tetapi juga memperkuat rasa bangga akan budaya Nusantara, terutama kekayaan etnik Sulawesi Tenggara yang beragam.

Bupati Bombana dan wakilnya tampak berbaur akrab dengan tamu undangan dan masyarakat yang hadir. Kehangatan dan kedekatan itu menunjukkan komitmen mereka sebagai pemimpin yang tak hanya bekerja di balik meja, tetapi juga hadir di tengah masyarakat dalam berbagai momen penting.

Upacara yang dihadiri langsung oleh Gubernur Sulawesi Tenggara beserta seluruh kepala daerah itu juga menjadi panggung kebersamaan. Semua elemen, dari pejabat, tokoh adat, seniman, hingga pelajar, ambil bagian dalam menyemarakkan acara, menciptakan suasana khidmat sekaligus meriah.

Busana adat Moronene yang dikenakan Burhanuddin dan Ahmad Yani seakan menjadi cerminan semangat Bombana yang tetap berakar pada tradisi, namun terus bergerak maju dalam semangat pembangunan. Keduanya, bersama istri masing-masing, tampak percaya diri dan harmonis saat mengikuti jalannya acara dari awal hingga selesai.

“Busana adat Moronene sangat unik dan punya filosofi yang dalam. Saya merasa bangga bisa mengenakannya di panggung kehormatan ini,” ungkap Ahmad Yani.

Dukungan terhadap pelestarian budaya lokal memang menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Burhanuddin – Ahmad Yani di Bombana. Berbagai program untuk mendorong generasi muda agar mengenal dan mencintai budaya sendiri terus digenjot melalui sektor pendidikan dan pariwisata budaya.

Upacara HUT Sultra ke-61 ini pun menjadi bukti nyata bahwa kekuatan budaya bisa menjadi elemen pemersatu dan penggerak pembangunan daerah. Di tengah era modernisasi, mempertahankan jati diri daerah melalui busana adat, bahasa, dan seni tradisi menjadi langkah strategis dalam menjaga kearifan lokal.

Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi yang ditunjukkan para kepala daerah, masyarakat Sulawesi Tenggara diharapkan dapat terus memperkuat persatuan dan mengambil bagian dalam setiap proses pembangunan. Momentum HUT ke-61 ini menjadi refleksi sekaligus langkah awal untuk masa depan Sultra yang lebih maju dan berdaya saing, tanpa melupakan akar budayanya.




HUT ke-61 Pemprov Usung Tema Harmoni Sultra

Kolaka, Sultranet.com – Dalam suasana khidmat dan penuh makna, Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka memimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Provinsi Sulawesi Tenggara yang digelar di Alun-Alun 19 November Kolaka, Minggu 27 April 2025. Peringatan ini dirangkaikan pula dengan Hari Otonomi Daerah ke-29 tahun 2025, menjadi momentum refleksi perjalanan pembangunan daerah yang penuh dinamika dan harapan ke depan.

Upacara dihadiri oleh berbagai elemen strategis, mulai dari keluarga tokoh pendiri Sultra, anggota DPR RI dan DPD RI Dapil Sultra, pimpinan DPRD Sultra, Forkopimda, para kepala daerah se-Sultra, hingga para Raja dan Sultan, tokoh adat, akademisi, instansi vertikal, serta masyarakat umum.

Dalam amanatnya, Gubernur menyampaikan rasa syukur atas usia Sulawesi Tenggara yang kini memasuki tahun ke-61 sejak terbentuk sebagai provinsi. Ia menegaskan bahwa capaian dan keberadaan Sultra saat ini tak lepas dari perjuangan para tokoh pejuang serta kerja keras para pemimpin terdahulu.

“Sudah sepantasnya kita memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pendiri Sultra dan para pemimpin sebelumnya. Semoga segala amal dan jasa mereka diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Andi Sumangerukka.

Mengangkat tema “Harmoni Sultra”, Gubernur menekankan pentingnya menjadikan keberagaman budaya, suku, bahasa, dan adat istiadat sebagai kekuatan kolektif dalam pembangunan. Ia menegaskan bahwa harmoni bukan hanya semboyan, tetapi semangat dasar dalam menjaga kesatuan dan kolaborasi untuk kemajuan daerah.

“Perbedaan adalah keindahan yang harus dikelola dengan bijak. Karena itu saya memilih ‘Harmoni Sultra’ sebagai semangat pembangunan kita. Mari kita terus bersatu dan membangun Sultra dengan hati dan semangat kolaborasi,” tegasnya.

Gubernur juga mengajak masyarakat untuk menjadikan peringatan ini sebagai momentum membangun kesadaran bersama akan pentingnya menjaga otonomi daerah yang bertanggung jawab dan produktif. Ia mendorong agar setiap elemen daerah mengembangkan potensi secara optimal dan bertanggung jawab demi kesejahteraan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, diberikan sejumlah penghargaan kepada daerah dan perangkat kerja terbaik. Kabupaten Muna Barat meraih nilai kategori A untuk klaster fiskal sedang, Kabupaten Konawe mendapat nilai kategori B untuk klaster fiskal rendah, dan Kabupaten Konawe Kepulauan meraih nilai kategori B untuk klaster fiskal tinggi.

Sementara itu, Innovation Governor Award Provinsi Sultra tahun 2025 diberikan kepada lima perangkat daerah atas kontribusi inovatif dalam tata kelola pemerintahan. Di antaranya adalah BRIDA dengan aplikasi “Adinda”, BKD dengan sistem pengelolaan ASN, Dinas Lingkungan Hidup melalui Klinik Ecobrick Lestari, Dinas Koperasi dan UMKM dengan Klingterasi UMKM dan Nomor Induk Usaha, serta Biro Administrasi Pembangunan dan Biro Pengadaan Barang dan Jasa melalui inovasi E-Pengendalian dan Bosara.

Tak hanya penghargaan, Gubernur juga menyerahkan bantuan simbolis berupa seragam sekolah untuk siswa SMA, SMK, dan SLB di Kolaka. Ia juga menyerahkan lima kartu “Beramal” sebagai bentuk dukungan sosial dari Pemprov Sultra kepada masyarakat yang membutuhkan.

Menutup upacara, Andi Sumangerukka mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kedamaian dan semangat kekeluargaan dalam membangun Bumi Anoa.

“Dirgahayu ke-61 Provinsi Sulawesi Tenggara. Harmoni Sultra untuk Indonesia,” ujar Gubernur disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta upacara.

Semangat yang ditunjukkan dalam peringatan ini menegaskan komitmen Pemprov Sultra dalam melanjutkan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis pada nilai-nilai lokal yang kuat. Dengan kerja sama semua pihak, Sulawesi Tenggara optimis melangkah menuju masa depan yang lebih baik, mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.




Babinsa Koramil 1431-01/Rumbia Pimpin Gotong Royong Pembersihan Kanan Kiri Jalan

Bombana, SultraNET. | — Babinsa Koramil 1431-01/Rumbia bersama aparat Kelurahan dan masyarakat menggelar kegiatan kerja bakti pembersihan kanan kiri jalan di Kelurahan Aneka Marga, Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana, Minggu (27/4/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Kepala Lingkungan 1 Toni Sriwidodo, Kepala Lingkungan 2 Bambang Ismoro, Babinsa Koramil 1431-01/Rumbia Serda M. Kosim, serta sekitar 15 orang masyarakat Kelurahan Aneka Marga. Mereka bekerja sama membersihkan sampah dan endapan lumpur di sepanjang drainase utama.

Babinsa Serda M. Kosim mengungkapkan, kegiatan kerja bakti ini merupakan bentuk kepedulian TNI terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.

“Gotong royong ini menjadi salah satu upaya kami bersama masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman,” ujarnya.

Danramil 1431-01/Rumbia, Kapten Inf Syafaruddin, juga mengapresiasi semangat kebersamaan dalam kegiatan tersebut.

“Kami dari Koramil sangat mendukung kerja bakti seperti ini karena mampu mempererat hubungan antara TNI, aparat kelurahan, dan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Lingkungan 1, Toni Sriwidodo, menyampaikan rasa terima kasih kepada Babinsa dan seluruh masyarakat yang turut berpartisipasi.

“Semoga kegiatan ini bisa rutin dilaksanakan agar lingkungan kita tetap terjaga kebersihannya,” pungkasnya.




Pemprov Sultra Dukung Pelestarian Budaya

Kolaka, Sultranet.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan lembaga adat dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal. Hal ini disampaikan oleh Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka melalui Sekretaris Daerah Sultra, Drs. H. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D, dalam acara pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) Kabupaten Kolaka masa bhakti 2025–2030 yang digelar di Kolaka, Sabtu, 26 April 2025.

Dalam sambutannya, Sekda menyampaikan selamat kepada pengurus baru MAKN Kolaka dan menegaskan pentingnya peran MAKN sebagai benteng terakhir pelestarian nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang diwariskan oleh kerajaan-kerajaan Nusantara.

“Selamat kepada Ketua DPD MAKN Kolaka dan seluruh jajaran. Amanah ini adalah panggilan untuk menjaga kelestarian budaya sebagai identitas luhur bangsa,” kata Asrun Lio mewakili Gubernur.

Ia mengingatkan, kemajuan teknologi digital membawa tantangan besar berupa krisis identitas budaya, terutama di kalangan generasi muda. Budaya global yang masif masuk lewat dunia digital sering membuat generasi saat ini mulai melupakan akar budayanya.

“Kita menyaksikan makin pudar pemahaman terhadap adat istiadat, bahasa daerah, hingga sejarah kerajaan dan tokoh lokal. Jika ini tidak segera disikapi, maka kita akan kehilangan jati diri,” ujarnya.

Sekda menegaskan pentingnya kehadiran MAKN dalam menjawab tantangan tersebut. MAKN dinilai sangat strategis karena mampu menjadi ruang edukasi dan dokumentasi budaya lokal, bahkan mendorong warisan budaya agar diakui secara nasional.

“Melalui MAKN, kita berharap lahir gerakan pelestarian dan pembaruan budaya yang lebih kontekstual. Budaya lokal kita perlu didokumentasikan secara serius agar tidak punah. Dari tarian, bahasa, hingga ritual adat—semuanya adalah kekayaan yang harus kita rawat,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar MAKN turut aktif dalam menginisiasi proses pendaftaran warisan budaya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) ke tingkat nasional. Menurutnya, pengakuan tersebut penting untuk memberi perlindungan hukum dan memperkuat eksistensi budaya lokal.

“Jika budaya kita diakui secara nasional, maka akan terbuka ruang lebih luas untuk pembinaan, promosi, hingga penguatan ekonomi berbasis budaya,” tambahnya.

Gubernur juga menitipkan pesan agar pengurus baru MAKN Kolaka menjadikan pelestarian budaya sebagai gerakan yang hidup, membangkitkan semangat generasi muda agar kembali mencintai jati diri budaya mereka.

“Mari jadikan amanah ini sebagai panggilan perjuangan. Bangkitkan kembali kebanggaan terhadap budaya lokal, dan jadilah penggerak utama dalam pelestarian dan promosi budaya Sulawesi Tenggara,” ucapnya.

Pelantikan DPD MAKN Kolaka dihadiri sejumlah tokoh penting dan pemangku adat dari berbagai kerajaan. Di antaranya Bhontona Marusu selaku Bendahara DPW MAKN Sultra, YM. HJ. Wa Ode R.AY Yani Kusdidjoyo dari Kesultanan Sumenep, Dewan Pakar DPP MAKN Mayjen (Purn) H. Munif Prasodjo, Wakil Bupati Kolaka Anakia Husmaluddin yang juga Ketua MAKN Kolaka, serta Ketua DPRD Kolaka.

Selain itu, hadir pula PYM Bokeo Raja Mekongga XX Drs. H. Khaerun Dachlan, perwakilan Sultan Buton, Raja Laiwoi, Raja Poleang Moronene, Raja Muna, Datu Luwu, dan Karaeng Rumbia dari Jeneponto. Para tokoh adat, perangkat kerajaan, hingga Forkopimda Kabupaten Kolaka turut memberikan dukungan penuh atas pelantikan tersebut.

Acara berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan semangat kebudayaan, menandai sinergi kuat antara pemerintah dan lembaga adat untuk membangun Sultra yang berakar pada nilai-nilai lokal namun adaptif terhadap masa depan.