Motor Kosleting, SPBU Di Baruga Hampir Ludes Terbakar

Kendari, SultraNET.| (13/5/2018) SPBU yang beroperasi Dilokasi Keluarahan Baruga-Lepo-Lepo hampir ludes terlalap sijago merah. Api yang hampir menghanguskan Pertamina tersebut bersumber dari motor yang tengah melakukan pengisian bahan bakar pertalite dan tiba-tiba muncul percikan api dari mesin motor hingga Bensin yang ada dalam tangki Motor memancing api makin membesar.

Inseden terjadi pada Sabtu (12/5/2018) sekitar pukul 15.00 waktu setempat dan berlangsung sangat cepat hingga membuat pengendara kendaraan lain yang tengah antrian berhamburan menghindari ancaman api itu.

Percikan Api yang Ditangki Motor langsung diatasi oleh Petugas Securiti dan pegawai pertamina.

Dalam konfirmasi Awak Media ini, hanya bisa berkomunikasi dengan pihak sekuriti dan pegawai pertamina karena pihak pimpinan (Direktur) tengah diluar kota.

Menurut Syam, Security yang berhasil mengatasi menjelaskan kronologi tersebut.

“Saat pelanggan lagi mengisi BBM pertalite, tiba-tiba dia keluar api dari mesin yang menyebabkan tangki motornya langsung menyala, untung saya langsung menutup kobaran api dengan Pembatas Lalu lintas yang kebetulan disamping motor itu dan berusaha menutup kobaran api yang makin besar yamg keluar dari dalam tangki”, jelasnya.

Tambahnya, karena kondisi api tidak berhenti meski sudah ditutup rapat, motor yang tengah menyala itu ditendang hingga terlempar jauh dari tempat Pengisian.

“Karena apinya tidak mau mati padahal saya sudah tutup tangkinya maka saya langung tendang itu motor dan karena motor masih posisi berdiri, ya motornya langsung jatuh jauh dari tempat pengisian”, tambahnya.

Karena kondisi masih sementara hujan, maka dengan tersiaram hujan dan usaha lain dari masyarakat api berhasil dipadamkan dan suasana kembali berjalan normal.




Darurat Pelayanan Di Kel. Lameroro. Pemkab Seakan Lepas Kontrol

Rumbia, SultraNET. | Ada keunikan tersendiri dalam pelayanan Publik di Kelurahan Lameroro Kec. Rumbia Kab. Bombana. Pasalnya, setiap warga yang hendak berurusan di instansi tersebut, warga terlebih dahulu wajib melalui jasa rental komputer untuk membuat format surat sesuai kebutuhan sebelum menemui Lurah untuk kebutuhan tandatangan .

Alasannya mengejutkan, salah satu kantor Kelurahan Ditengah Ibu kota Kab. Bombana ini, tidak memiliki fasilitas peralatan kantor yang dapat difungsikan untuk melayani Warganya.

Anehnya, instansi yang hanya berjarak Dua Ratusan meter dari Sekretariat Daerah ini, tidak memiliki fasilitas Instalasi jaringan Listrik seyogyanya kantor instansi pemerintahan.

Salah seorang warga Kel. Lameroro MS (inisial -Red), yang pernah berurusan administrasi dikantor kelurahan menuturkan dari pengalamannya, Ia sungguh menyesalkan kondisi itu masih terjadi dikantor pemerintah, menurutnya, ketika Warga hendak berurusan di kelurahan, seharusnya tidak perlu lagi direpotkan.

“Kan itu kantor pemerintah, sudah ada gajinya itu pegawai yang menulis, semua itu kertas tinta sudah ada anggarannya. Masa kita Pii lagi yg harus urus yang begituan?.” Cetusnya Kesal.

Informasi yang dihimpun awak media, pelayanan dikantor itu sudah berlangsung lama. Bermula Sejak Pemutusan Hubungan arus listrik dikantor itu oleh Pihak PLN sebagai sanksi ketunggakan pembayaran tarif listrik secara terus menerus sesuai ketentukan aturan.

Lurah Lameroro, Suharno Wahid, yang coba dihubungi via selulernya (12/05/2018 20:00) belum bisa dikonfirmasi.

Padahal, disetiap momentum politik, oleh para calon kepala daerah. Janji Pelayanan Publik kerap jadi wacana utama yang menjadi bahan kelakar dalam menyampaikan Visi misi kampanye sebagai janji politik.

Meskipun demikian, tanpa ada janji politik pun, yang namanya pelayanan publik adalah wajib terpenuhi, terutama diera percepatan pembangunan Kab. Bombana agar secepatnya bebas dari kategori salah satu Daerah tertinggal Di Sulawesi Tenggara.




Tim Aman Center, Ramadhan Ciptakan Politik Yang Dingin

Rumbia, SultraNET. | Menjelang Bulan Suci Ramadhan 1439 H Tim Ali Mazi-Lukman Abunawas (Aman) Center akan tetap fokus melakukan kampanye namun semua itu disertai dengan agenda religi dengan cara mengajak dan menghimbau seluruh tim paslon untuk menghentikan fitnah fitnah politik.

Direktur Aman Center, Rahmat Apiti mengatakan, Jadikanlah bulan ramdhan ini sebagai politik jalan “suci” yakni Ibadah ramadhan jangan dikotori dengan politik yang menghalalkan segala macam cara.

“Mengingat dibulan puasa merupakan momentum ibadah yang “sakral” dan sebaiknya kita hindari hujat menghujat kita ciptakan suasana politik yang coold.” Ujarnya

Mantan Aktivis itu juga menambahkan, Untuk Tim Aman pada bulan suci ramadhan akan fokus pada agenda kultural sehingga ibadah dan agenda politik berjalan paralel karena bagi kami politik tidak boleh mencemari sakralitas bulan yang diagungkan umat muslim.

“Larangan dan atau himbauan bawaslu dalam bulan suci ramadhan kami sudah kaji dan kami akan patuhi dengan tidak akan mempolitisasi puasa untuk menjalankan misi politik Aman.” Jelasnya

Lebih lanjutnya, Pihaknya menyerukan dan menghimbau kepada seluruh Tim Pasangan Calon (Paslon) untuk tetap menciptakan suasan politik yang kondusif menjelang bulan suci ramadhan.

“Kami seluruh tim internal Aman terutama tim medsos yang terdata agar menciptakan opini opini yang sehat pada bulan ramadhan.” Pungkasnya (EM)




Warga Kecamatan Talaga Raya Di Hantui “Pagere-Gere “

Rumbia, SultraNET. | Warga Kecamatan Talaga Raya Dasa Talaga Besar Kabupaten Buton Tengah sedang menghadapi keresahan dengan adanya isu “Pagere-Gere”.

Pagere-gere adalah sebutan untuk penyerangan masyarakat indonesia pada zaman penjajajan. Motif prilaku Pagere-gere dengan cara membunuh dan memutilasi warga.

Namun, motif Pagere-gere yang tengah menghantui warga sekitar berupa menakut-nakuti warga lalu mencuri perabot rumah tangga ketika pemilik rumah lengah dan lari ketakutan.

Menurut salah satu warga Desa Talaga Besar, Darmanto membeberkan bahwa sudah sepekan warga dihantui dan ditakut-takuti bahkan keluarganya pun sudah menjadi korban.

“Sudah satu minggu ini warga di hantui orang tak dikenal, dan warga kampung mengisukan dengan pagere-gere, bahkan tanteku sendiri sudah jadi korbannya”, jelas Darmanto saat dihubungi oleh awak media harapansultra.com via handphone.

Ketua Pemuda Talaga Besar, Darmanto menambahkan bahwa motif pelakukanya berbeda dari sebutan Pegere-gere biasa, hal ini dikarenakan motifnya bukan membunuh tapi menakuti warga agar lari dari rumahnya, setelah kosong si pelaku langsung beraksi mengambil isi rumah, seperti beras, gula, kopi, hp, pakaian, dan perabot rumah lainnya yang berharga.

“Pegere-gere zaman Now aneh-aneh, pada malam hari warga ditakuti dan setelah lari segala isi rumah dicuri seperti beras, gula, kopi, hp, TV dan banyak lagi yang hilang”, tambahnya.

Dikesempatan yang sama, Darmanto menyampaikan bahwa Sudah beberapa malam warga melakukan pengejaran dan hampir tertangkap warga.

Kasus pagere-gere ini belum dikonformasikan kepada pihak Babinsa dan Kepolisian karena masih akan diterapkan hukum adat.




“EMAS HIJAU” Menjamur di Bombana

Rumbia, SultraNET. | etelah Bombana saat itu diberi slogan tersendiri sebagai “Negeri Penghasil Emas, karena kandungan Emas murni kekuningan yang telah menghebohkan masyarakat lokal bahkan Manca Negara sejak 2008 silam, hingga harus borbondong – bondong untuk datang mendulang emas di jazirah Bombana.

kini, Emas Hijau pun tengah menjamur dan menjadi keasyikan tersendiri bagi masyarakat, karena dirasakan cukup signifikan telah terbukti mendokrak pendapatan ekonomi masyarakat petani didaerah ini, khusnya masyarakat petani di poleang.

Bukan Emas Sebenarnya, melainkan “Emas Hijau” dimaksud adalah Tanaman Nilam, yang Sari patinya tidak lain adalah bahan utama pembuatan parfum dan wangi wangian, sehingga Nilam menjadi tanaman budidaya tersediri oleh para petani. Selain harganya jualnya yang tegolong mahal, biayanya pun jauh lebih murah dari budidaya tanaman lainnya seperti padi, sehingga diyakini cukup membantu meningkatkan taraf hidup ekonomi masyarakat.

Salah satu pelaku budidaya Tanaman Nilam di Poleang Utara, H. Mustafa, saat ditemui fajarbombana.com, Senin (5/9) menuturkan, jika tanaman nilam jauh lebih ekonomis dibandingakan komoditi lain seperti padi, kelapa, dan kakao. Namun begitu, menurutnya bukan berarti harus melupakan komoditi yang lain, sebab tidak semua kontur tanah dapat ditumbuhi tanaman Nilam.

“biayanya relative murah dan hasil panen juga memuaskan. Jadi nilam sekarang itu jadi tanaman primadona karena harganya mahal. ”Tutur H. Mustafa.

Mustafa yang tidak lain adalah Sekretaris Kecamatan Poleang Utara itu, mulai merinci perhitungan hasil panen dan biaya yang dikeluarkan dalam budidaya tanaman nilam. Menurutnya, dalam setiap 22 karung Rumput Nilam, setelah melalui penyulingan dapat menghasilkan 12 kg minyak nilam, dalam satu kilo gramnya, minyak nilam dihargai hingga Rp. 470.000 untuk saat ini. Sementara biaya yang dikeluarkan petani hanya berkisar Rp. 700.000 an.

“Sehingga wajar kalau tanaman nilam itu disebut Emas Hijau oleh masyarakat kami disini. “pungkasnya

Sementara itu, Camat Kec. Totonunu Muhulifu, SP, turut membenarkan hal itu. Bahkan menurutnya, dari banyaknya komoditas pertanian dan perkebunan di wilayah oritasnya itu, seperti kakao dan kelapa sawit, nilam masih menjadi komoditas unggulan para petani.

Bahkan, rencana tahun 2017 mendatang, pihaknya akan membentuk Badan Usaha Milik Desa yang anggaranya bisa diserap melaului shering dana Desa dan anggaran Kecamatan.

“tujuannya semata-mata untuk membantu para petani dalam hal permodalan. Sekaligus melindungi stabilitas harga jual hasil panen petani. ”Terang Muhulifu