Pangdam XIV/Hasanuddin Tutup Program TMMD Ke-124 di Kabupaten Bombana

Bombana, Sultranet.com – Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Windiyatno, secara resmi menutup kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 Tahun Anggaran 2025 yang digelar oleh Kodim 1431/Bombana. Penutupan berlangsung di Pelataran Eks MTQ Kelurahan Lauru, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (4/6/2025).

Dalam amanatnya, Mayjen TNI Windiyatno menyampaikan bahwa TMMD ke-124 telah berjalan selama 30 hari, mulai 6 Mei hingga 4 Juni 2025, dan dilaksanakan secara serentak di empat wilayah Kodam XIV/Hasanuddin, yaitu Kabupaten Luwu Utara, Wajo, Bantaeng, dan Bombana.

Ia menjelaskan bahwa pelibatan TNI dalam program ini merupakan implementasi dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2025 tentang Operasi Militer Selain Perang (OMSP), yang menugaskan TNI untuk membantu pemerintah daerah, khususnya dalam meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

TMMD ke-124 di wilayah Kodam XIV/Hasanuddin mencakup berbagai sasaran fisik, antara lain peningkatan jalan desa sepanjang 5.000 meter, pembuatan drainase 200 meter, pembangunan 6 unit plat deuker, pengerasan jalan sepanjang 2.100 meter, dan pembangunan 2.100 meter talud.

Penyerahan Laporan Hasil Palaksanaan TMMD dari Dansatgas kepada Bupati Bombana
Penyerahan Laporan Hasil Palaksanaan TMMD dari Dansatgas kepada Bupati Bombana

Selain itu, dilakukan pula pembangunan satu unit embung pertanian, dua unit jembatan, peningkatan jalan usaha tani sepanjang 2.800 meter, rehabilitasi dua unit tribun, dan renovasi satu unit masjid sebagai bagian dari sasaran fisik utama TMMD.

Program unggulan Kasad juga turut dilaksanakan dalam TMMD ke-124, seperti pembangunan sumur bor di 17 titik, renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebanyak 6 unit, pembangunan MCK 4 unit, penanaman 2.500 pohon, serta kegiatan pembersihan pasar dan saluran irigasi.

Terkait sasaran nonfisik, TMMD kali ini meliputi penyuluhan hukum, wawasan kebangsaan, bahaya narkoba, kesehatan, perikanan, peternakan, kamtibmas, penggunaan media sosial, serta materi tambahan Posyandu dan Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM).

Mayjen TNI Windiyatno berharap hasil program TMMD dapat mendorong semangat masyarakat untuk berkembang secara ekonomi dan mampu menghadapi tantangan globalisasi dengan tetap menjaga kebersamaan serta nilai-nilai gotong royong.

Dandim 1431/Bombana Selaku Dansatgas Bacakan Laporan hasil Pelaksanaan TMMD ke 124 Ta. 2025
Dandim 1431/Bombana Selaku Dansatgas Bacakan Laporan hasil Pelaksanaan TMMD ke 124 Ta. 2025

Tema TMMD ke-124, “Dengan Semangat TMMD Mewujudkan Pemerataan Pembangunan Berkelanjutan dan Ketahanan Nasional di Wilayah,” dinilai sangat relevan dengan dinamika pembangunan dan kebutuhan masyarakat saat ini.

Pangdam XIV/Hasanuddin ini juga menyampaikan lima pesan penting kepada seluruh pihak yang terlibat. Pertama, menjaga kemanunggalan TNI dan rakyat dengan terus hadir dan membantu masyarakat. Kedua, memperkuat budaya gotong royong sebagai benteng terhadap segala bentuk ancaman bangsa.

Ketiga, memelihara hasil TMMD agar manfaatnya bisa dirasakan secara berkelanjutan. Keempat, Dansatgas TMMD diminta melakukan evaluasi untuk peningkatan program di masa mendatang. Kelima, ucapan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh personel Satgas atas dedikasi selama kegiatan berlangsung.

Komandan Kodim 1431/Bombana, Letkol Inf Andi Irfandi, S.I.P saat di temui di Lokasi Upacara Mengatan sasaran TMMD di Kabupaten Bombana yang terfokus di Kecamatan Matausu, meliputi 13 sasaran fisik utama seperti perbaikan jalan usaha tani, jembatan, deuker, rehab tribun dan masjid.

Pangadam Fofo bersama Forkopimda Kabupaten Bombana
Pangadam Fofo bersama Forkopimda Kabupaten Bombana

Diantara sasaran tersebut adalah perbaikan jalan tani sepanjang 800 meter di Desa Wia-wia dan 2 km di Desa Lamuru, serta pembangunan dan perbaikan jembatan di Desa Morengke dan Kolombi masing-masing sepanjang 5 hingga 6 meter.

Selain itu, direalisasikan pembangunan dan rehabilitasi deuker di tiga desa, rehab tribun di dua desa, serta renovasi dua masjid di Desa Totole dan Morengke sebagai bagian dari peningkatan infrastruktur desa.

Sasaran nonfisik TMMD di Bombana mencakup lima kegiatan penting: penyuluhan narkoba, bela negara, wawasan kebangsaan, penyuluhan lingkungan hidup, serta pelaksanaan program Keluarga Berencana dan kesehatan.

Program unggulan Kasad yang dilaksanakan khusus di Kabupaten Bombana meliputi pembangunan dan rehab rumah tidak layak huni, sumur bor, penanaman pohon di lima desa, pemberian sembako kepada 100 warga kurang mampu dan stunting, serta makan bergizi gratis untuk 100 orang.

Letkol Andi Irfandi menambahkan bahwa keberhasilan TMMD ini tidak terlepas dari kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, Polri, serta masyarakat yang secara aktif berpartisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan fisik dan nonfisik.

Masyarakat Kecamatan Matausu menyambut baik pelaksanaan TMMD ini karena dampaknya dirasakan langsung, seperti akses jalan tani yang kini lebih mudah dilalui dan jembatan penghubung antar-desa yang kini lebih aman.

Dengan berakhirnya program ini, diharapkan semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan kemanunggalan TNI-rakyat dapat terus terjaga demi terwujudnya masyarakat desa yang lebih sejahtera dan mandiri.




Pangdam XIV/Hasanuddin ke Bombana, Agenda Tutup TMMD ke 124 Ta. 2025

Bombana, Sultranet.com – Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XIV/Hassanudin, Mayjen TNI Windiyatno, melakukan kunjungan kerja perdananya di wilayah Kodim 1431/Bombana, Sulawesi Tenggara, Selasa (3/6/2025).

Kunjungan ini dirangkaikan dengan agenda penutupan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 serta berbagai kegiatan sosial dan pembinaan satuan.

Setibanya di Makodim 1431/Bombana Pangdam disambut dengan pengalungan bunga, tarian adat, dan laporan resmi dari Dandim 1431/Bombana, Letkol Inf Andi Irfandi, S.I.P

Pangdam hadir bersama Ketua Persit KCK PD XIV/Hassanudin, Ny. Infita Windiyatno, dan rombongan dari jajaran Kodam dan Korem.

Dalam arahannya kepada seluruh personel Kodim, Mayjen Windiyatno menekankan pentingnya keharmonisan dalam rumah tangga prajurit.

“Sayangi keluarga dan jaga komunikasi yang baik antara suami dan istri agar tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa berujung perceraian,” ujar Pangdam.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, menjauhi judi, mendampingi anak-anak dalam meraih cita-cita, serta menjaga hubungan baik dengan masyarakat.

“Jalankan tugas dengan niat ibadah, dan jangan ada gesekan dengan masyarakat maupun instansi lain. Hindari sifat iri hati dan jangan membandingkan hidup dengan orang lain,” pesannya.

Usai pengarahan, Pangdam menyerahkan satu ekor sapi kurban secara simbolis kepada Kodim 1431/Bombana.

Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon, peninjauan lahan pembangunan rumah SBSN, serta penandatanganan kesan dan pesan.

Kunjungan ini disambut antusias oleh jajaran Forkopimda Bombana. Turut hadir Bupati Bombana Ir. H. Burhanuddin, Kapolres AKBP Wisnu Hadi, Kajari Agung Sugiharto, serta para perwira Kodim dan OPD Kabupaten Bombana.

Sementara Ketua Persit KCK PD XIV/Hasanuddin juga melakukan pembinaan terhadap anggota Persit Kodim 1431/Bombana dan menyempatkan meninjau hasil pertanian serta budidaya ikan di lingkungan pangkalan Kodim.

Rombongan yang mendampingi Pangdam XIV/Hassanudin dalam kunjungan ini terdiri dari Brigjen TNI R. Wahyu Sugiarto, S.I.P., M.Han. (Danrem 143/HO) beserta ibu, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, S.Sos., M.Si., M.Han. (Plh. Asops Kasdam XIV/Hsn) beserta ibu, Kolonel Kav Eko Saptono, S.E., M.M. (Aster Kasdam XIV/Hsn) beserta ibu Letkol Inf Erwinsyah Taupan, S.H., M.Si. (Kasi Ops Kasrem 143/HO), Letkol Inf Muhamad Jafar (Kasi Ter Kasrem 143/HO) beserta ibu, Kolonel Arm Gatot Awan Febrianto, S.Sos., M.Han. (Kapen Dam XIV/Hsn) beserta ibu

Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam mempererat sinergi TNI dan Pemda Kabupaten Bombana, sekaligus penguatan internal Kodim dalam membina wilayah teritorialnya ke depannya.




Aktivis Nusantara Turun Aksi di Kementrian ESDM Tuntut Cabut Izin Tambang PT SCM

KENDARI, Sultranet.com – Suasana panas terasa di depan kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta Pusat pada Senin siang, ketika puluhan aktivis dari Perhimpunan Aktivis Nusantara (PERANTARA) kembali turun ke jalan, Senin 2 Juni 2025.

Mereka menuntut pemerintah mengambil langkah tegas terhadap aktivitas pertambangan nikel oleh PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), anak usaha PT Merdeka Battery Mineral Tbk, yang beroperasi di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Aksi unjuk rasa ini tak hanya diwarnai orasi lantang. Para demonstran juga membakar ban bekas sebagai simbol perlawanan, memicu ketegangan dengan petugas keamanan yang berjaga.

Seruan Evaluasi Total dan Cabut Izin
Dalam tuntutannya, PERANTARA meminta Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dan Menteri ESDM untuk segera melakukan evaluasi total terhadap izin tambang PT SCM. Mereka menuding perusahaan telah melanggar berbagai ketentuan hukum dan merugikan masyarakat sekitar tambang.

“PT SCM diduga kuat menjadi penyebab kerusakan ekologis yang menyebabkan banjir serta mengganggu aliran sungai di Konawe dan Konawe Utara. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal hak hidup masyarakat,” ujar Eghy Seftian, penanggung jawab aksi.

Ia menekankan bahwa aktivitas tambang yang merusak lingkungan tersebut telah melanggar Pasal 96 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020, yang mengatur kewajiban perusahaan tambang dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Dugaan Penyerobotan Lahan dan Smelter Fiktif Tak hanya persoalan lingkungan, PERANTARA juga menyoroti dugaan penyerobotan lahan milik masyarakat tanpa proses musyawarah atau ganti rugi yang layak.

“Ini bukan hanya persoalan hukum, tapi persoalan moral dan keadilan sosial. PT SCM mencederai prinsip-prinsip penghormatan terhadap hak masyarakat lokal sebagaimana diatur dalam Pasal 134 UU Minerba,” lanjut Eghy, yang juga merupakan mantan Ketua Umum HIMA SULTRA-Jakarta.

Sementara itu, Muhammad Rahim, Koordinator Aksi, menyoroti janji pembangunan smelter oleh PT SCM yang dinilai hanya sebagai alat manipulasi demi memperoleh kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah.

“Smelter itu kami duga hanya kedok. Dengan dalih pembangunan smelter, mereka mendapat kuota RKAB hingga 19 juta metrik ton—angka yang sangat besar dan patut dipertanyakan,” ungkap Rahim.

Ancaman Aksi Lebih Besar
Menutup aksi, PERANTARA menegaskan bahwa protes ini adalah awal dari gerakan yang lebih besar jika pemerintah tidak segera bertindak.

“Negara tidak boleh tunduk pada kekuatan modal. Jika tidak ada tindakan tegas, kami akan lanjutkan tekanan dengan aksi massa yang lebih masif di seluruh kementerian terkait,” tegas Eghy.

Mereka menyerukan penyelamatan Tanah Routa dan meminta agar investasi tambang tidak menjadi kedok untuk merampas hak rakyat dan merusak ruang hidup.

“Kami tidak anti investasi. Tapi jika investasi datang dengan cara merampas tanah adat dan mengancam keberlangsungan masyarakat, maka kami akan berdiri di barisan perlawanan,” tutupnya.




Rasa Haru selimuti Keluarga Salmawati, RTLH-nya Rampung 100 Persen dan Siap Ditempati

Bombana, Sultranet.com – Kebahagiaan tak terbendung dirasakan keluarga Salmawati, warga Desa Wia-wia, Kecamatan Matausu, Kabupaten Bombana. Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) miliknya yang selama ini ia tempati bertahun-tahun kini telah rampung direnovasi dan siap dihuni. Pembangunan tersebut merupakan bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 Kodim 1431/Bombana yang pengerjaannya telah mencapai 100 persen, Senin (2/6/2025).

Dansatgas TMMD ke-124, Letkol Inf Andi Irfandi, S.I.P., menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja sama solid antara Satgas TMMD dan masyarakat.

“Pada hari ke-27 pelaksanaan TMMD, kami berhasil menyelesaikan pembangunan RTLH secara keseluruhan. Ini tidak lepas dari semangat gotong royong yang luar biasa,” ujar Letkol Andi Irfandi.

Pembangunan RTLH menjadi salah satu fokus kegiatan fisik TMMD di wilayah Kodim 1431/Bombana. Proyek ini ditujukan untuk membantu warga kurang mampu agar dapat memiliki hunian yang layak, sehat, dan aman. Rumah Salmawati menjadi simbol nyata keberhasilan program tersebut.

“Semangat dan kebersamaan antara prajurit dan masyarakat sangat terlihat selama pelaksanaan. Pekerjaan berjalan lancar, tanpa hambatan, dan rumah pun bisa langsung ditempati,” tambahnya.

Salmawati, penerima manfaat program TMMD, tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Air mata haru mengiringi saat ia melihat rumah barunya berdiri kokoh menggantikan bangunan lamanya yang sudah rapuh dan tak layak huni.

“Kami sangat bersyukur. Sudah lama tinggal di rumah yang hampir roboh, tapi tidak punya biaya untuk memperbaikinya,” ucap Salmawati.

Ia mengungkapkan bahwa bantuan dari TNI bagaikan jawaban atas doa-doa panjang keluarganya.

“Begitu dapat kabar rumah kami akan diperbaiki oleh bapak-bapak TNI, kami langsung sujud syukur. Ini berkah yang tak ternilai,” tambahnya dengan mata berkaca-kaca.

Program TMMD ke-124 bukan sekadar pembangunan fisik, namun juga menjadi bentuk kepedulian nyata TNI terhadap kesejahteraan masyarakat. Melalui program ini, kehadiran negara benar-benar dirasakan hingga ke pelosok desa, menyentuh hati dan mengubah kehidupan warga yang membutuhkan.




Suasana Kehangatan Saat Satgas TMMD ke-124 Nikmati Makan Siang Bersama Keluarga Asuh di Hari Perpisahan

Bombana, Sultranet.com — Mengakhiri rangkaian kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124, anggota Satgas TMMD Kodim 1431/Bombana menikmati momen perpisahan yang penuh kehangatan dengan menyantap makan siang sederhana bersama keluarga asuh mereka, Sabtu (31/05/2025). Kegiatan ini menjadi penutup manis setelah satu bulan penuh para prajurit bergelut dengan pembangunan fisik dan interaksi sosial di tengah masyarakat.

Suasana kekeluargaan sangat terasa di rumah bapak Juma warga yang menjadi tempat bermalam para personel. Meski hanya dengan menu sederhana berupa nasi hangat, sayur Lodeh, ikan bakar, ayam goreng, dan sambal pedas, momen makan siang tersebut terasa istimewa karena diiringi tawa, canda, dan perasaan haru.

Sertu Syamsudin, salah satu anggota Satgas TMMD ke-124, menyampaikan rasa syukurnya atas kebersamaan yang terjalin.

“Makan siang bersama keluarga asuh ini sungguh nikmat. Bukan hanya karena makanannya, tapi karena kebersamaan dan perhatian tulus dari mereka selama kami tinggal di sini,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Kebersamaan dalam makan siang ini mencerminkan eratnya hubungan emosional antara Satgas TMMD dan warga desa. Selama kegiatan berlangsung, para prajurit tak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun hubungan kekeluargaan yang tulus dan mendalam dengan masyarakat setempat.

Program TMMD ke-124 tidak hanya memberi dampak fisik berupa perbaikan jalan dan fasilitas umum, tetapi juga memperkuat jalinan sosial antara TNI dan rakyat. Momen seperti makan siang perpisahan ini membuktikan bahwa kemanunggalan TNI dengan rakyat bukan sekadar slogan, melainkan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dukungan dan perhatian dari keluarga asuh telah menjadi penopang semangat para prajurit dalam menjalankan tugas di lapangan. Kehangatan suasana rumah yang mereka rasakan selama berminggu-minggu menjadi pelipur rindu dari hiruk-pikuk kehidupan militer.

Dengan berakhirnya TMMD ke-124, diharapkan keakraban dan kemanunggalan antara TNI dan masyarakat dapat terus terjaga. Meski tugas telah usai, kenangan akan kebersamaan ini akan selalu melekat di hati para prajurit dan warga sebagai bukti bahwa TMMD adalah jembatan kemanusiaan yang mempererat persatuan bangsa.




Tanam Pohon, Upaya Babinsa Kembalikan Fungsi Alam Cegah Banjir di Poleang Barat

Bombana, Sultranet.com – Dalam rangka mengantisipasi banjir dan mengurangi polusi udara, Babinsa Koramil 1431-03/Poleang melaksanakan kegiatan penanaman pohon di Desa Pabiring, Kecamatan Poleang Barat, Kabupaten Bombana, Minggu (01/05/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen TNI dalam menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penghijauan.

Kegiatan penanaman pohon tersebut dipimpin oleh Serda Ali Jamal bersama sejumlah anggota Koramil lainnya, yakni Serda Paulus P, Serda Susanto, dan Kopda Muh. Faisal. Turut hadir dalam kegiatan ini Kepala Dusun Tomi serta sekitar 15 warga masyarakat yang ikut secara aktif dalam proses penanaman pohon. Total sebanyak 40 bibit pohon ditanam, terdiri dari pohon jati dan trembesi.

“Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian kami terhadap kelestarian lingkungan. Dengan menanam pohon, kami berharap dapat mengurangi risiko banjir dan menjaga kualitas udara di wilayah Poleang Barat,” ujar Serda Ali Jamal, mewakili Babinsa Koramil 1431-03/Poleang.

Danramil 1431-03/Poleang, Kapten Inf Dahlan, juga menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari program pembinaan teritorial untuk menciptakan lingkungan yang hijau dan sehat. “Kami ingin menumbuhkan rasa cinta lingkungan di tengah masyarakat melalui aksi nyata seperti ini,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dusun Pabiring, Tomi, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan rasa terima kasih kepada Babinsa dan seluruh pihak yang terlibat. “Penanaman pohon ini sangat penting, apalagi desa kami rawan banjir saat musim hujan. Semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan,” tutupnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari upaya pencegahan bencana dan pelestarian lingkungan di wilayah Poleang Barat dan sekitarnya.




Guna Kenyamanan Jama’ah, Satgas TMMD ke-124 Kodim 1431/Bombana Pasang Kloset dan Lantai MCK Masjid Al-Mukmin 

Bombana, Sultranet.com – Dalam rangka memberikan kenyamanan bagi para jama’ah, Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 Kodim 1431/Bombana melaksanakan renovasi fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di Masjid Al-Mukmin, Desa Totole, Kecamatan Matausu, Kabupaten Bombana, Minggu (01/06/2025). Kegiatan ini meliputi pemasangan kloset dan lantai baru guna memperbaiki fasilitas yang sebelumnya rusak dan tidak layak pakai.

Serma Iwan Salasi, personel Satgas TMMD ke-124, menjelaskan bahwa renovasi ini meliputi berbagai aspek penting. “Sebelumnya MCK ini sudah rusak dan tidak berfungsi. Kami melakukan perbaikan mulai dari atap, pemasangan kloset baru, dan penggantian lantai agar lebih bersih dan nyaman digunakan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, untuk menunjang kelayakan fasilitas tersebut, Satgas TMMD juga telah menyelesaikan pemasangan sumur bor.

“Kami juga telah memasang sumur bor agar suplai air lebih lancar dan memadai, mengingat kebutuhan air bersih sangat penting untuk fasilitas ibadah,” tambah Serma Iwan.

Sakrudin, S.IP, salah satu pegawai Kecamatan Matausu yang hadir di lokasi, mengapresiasi inisiatif dari Satgas TMMD.

“Ini adalah bentuk perhatian nyata dari TNI terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan fasilitas MCK yang baru, jama’ah bisa beribadah dengan lebih tenang dan nyaman,” ucapnya.

Dandim 1431/Bombana, Letkol Inf Andi Irfandi, S.I.P., selaku Dansatgas TMMD ke-124 menyampaikan harapannya.

“Kami berharap pembangunan MCK ini dapat menunjang kenyamanan jama’ah Masjid Al-Mukmin serta menjadi contoh kolaborasi antara TNI dan masyarakat dalam membangun desa,” tutup Letkol Andi Irfandi




Rampungkan Pembangunan Jembatan, Satgas TMMD ke-124 Gunakan Alat Berat Bongkar dan Rapikan Jembatan Alternatif

Bombana, Sultranet.com  – Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 Kodim 1431/Bombana merampungkan pembangunan jembatan utama di Desa Kolombi Kecamatan Matausu Kabupaten Bombana. Minggu (01/06/2025). Sebagai langkah akhir, Satgas TMMD menggunakan alat berat untuk membongkar dan merapikan jembatan alternatif yang sebelumnya digunakan masyarakat selama proses pembangunan berlangsung.

Pembangunan jembatan ini merupakan salah satu sasaran fisik prioritas dalam program TMMD ke-124 dan kini telah rampung 100 persen, termasuk tahap pengecatan yang dilakukan pada akhir Mei lalu. Jembatan baru ini diharapkan mampu mendukung aktivitas warga secara optimal, terutama dalam aspek transportasi, ekonomi, dan sosial.

Koordinator wilayah TMMD di Desa Akolombi, Lettu Inf Nyoman Admika, menyampaikan bahwa perapian jembatan alternatif menjadi langkah terakhir sebelum jembatan utama difungsikan sepenuhnya.

“Pengerjaan ini merupakan bagian akhir. Setelah dirapikan, masyarakat sudah bisa melewati jembatan utama dengan nyaman dan aman,” ujarnya.

Dansatgas TMMD ke-124 Kodim 1431/Bombana, Letkol Inf Andi Irfandi, S.I.P., mengapresiasi kerja keras seluruh personel di lapangan. Ia menyebut semangat dan kerja tulus para anggota Satgas menjadi kunci terselesaikannya pembangunan jembatan sebelum penutupan TMMD.

“Semua dikerjakan dengan hati dan penuh semangat pengabdian,” pungkasnya.

Jembatan Desa kolombi menjadi simbol keberhasilan TMMD ke-124 Kodim 1431/Bombana dalam mendukung pembangunan desa. Diharapkan, infrastruktur ini membawa manfaat jangka panjang bagi warga, serta mempererat sinergi antara TNI dan masyarakat dalam membangun daerah yang lebih maju.




Tampak Lebih Cerah dan Terang, Setelah di Rehab satgas TMMD, Masjid Al-Mukmin Siap Sambut Hari Raya Idul Adha

Bombana, Sultranet.com  – Masjid Al-Mukmin di Desa Totole, Kecamatan Matausu, Kabupaten Bombana, kini tampil lebih cerah dan terang setelah rampung direhabilitasi oleh Satgas TMMD Reguler ke-124 Kodim 1431/Bombana bersama warga setempat. Proses pengecatan dan pemasangan tehel lantai selesai. Sabtu (31/5/2025), menjadikan masjid siap menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 H.

Kegiatan renovasi ini merupakan salah satu sasaran fisik dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang digelar tahun 2025. Masjid Al-Mukmin tak hanya menjadi sarana ibadah utama bagi warga Desa Totole, tetapi juga simbol kolaborasi antara TNI dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas fasilitas umum.

Serda Haruna, personel Satgas TMMD, mengungkapkan bahwa pengerjaan masjid melibatkan semangat gotong royong yang tinggi antara anggota TNI dan masyarakat.

“Kami merasa bangga bisa ambil bagian dalam mempercantik rumah ibadah ini. Hasilnya bisa langsung dirasakan oleh warga dalam momen besar seperti Idul Adha,” ujarnya.

Kepala Desa Totole, Rauke, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan penuh Satgas TMMD dalam mendukung pembangunan desa.

“Masjid Al-Mukmin kini jauh lebih nyaman. Ini menunjukkan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat bukan hanya slogan, tapi nyata dan bermanfaat,” ungkapnya.

Kapten Inf Bahar selaku Koordinator Wilayah TMMD di Desa Totole menegaskan bahwa kegiatan ini bukan semata perbaikan bangunan, melainkan juga bentuk kepedulian sosial.

“Kami hadir untuk membantu masyarakat, bukan hanya membangun fisik, tapi juga membangun hubungan dan semangat kebersamaan,” tegasnya.

Sementara itu, Dansatgas TMMD ke-124 Kodim 1431/Bombana, Letkol Inf Andi Irfandi, S.I.P., menyatakan bahwa rehabilitasi masjid adalah bagian dari komitmen TNI dalam mendukung kehidupan keagamaan masyarakat.

“Pekerjaan telah rampung dan hasilnya sangat memuaskan. Semoga masjid ini memberi kenyamanan bagi umat dalam beribadah, khususnya di Hari Raya Idul Adha mendatang,” tutupnya.




Fokus Tambang, Janji Bangun Smelter Terbaik, Ampuh Sultra Kritik PT.SCM

KENDARI,sultranet.com – Aliansi Masyarakat Peduli Hukum (Ampuh) Sulawesi Tenggara kembali menyoroti sejumlah persoalan yang menyelimuti aktivitas PT. Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe.

Sorotan tajam kali ini mengarah pada kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) PT. SCM yang mencapai angka fantastis, yakni 19 juta metrik ton.

Menurut Direktur Ampuh Sultra, Hendro Nilopo, angka ini sangat janggal untuk sebuah perusahaan yang diklaim sebagai pengelola kawasan mega industri.

“Sejak kapan pengelola kawasan industri membutuhkan kuota RKAB sebesar itu?” ujar Hendro saat ditemui media ini pada Rabu (28/5/2025).

Padahal, lanjut Hendro, PT. SCM sebelumnya telah menyampaikan rencana ambisius kepada Pemerintah Daerah Konawe, termasuk pembangunan dua smelter serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kecamatan Routa.

Rencana tersebut disampaikan langsung dalam pertemuan resmi yang dipimpin oleh Sekda Konawe.

Dalam presentasinya, manajemen PT. SCM menjabarkan rencana pembangunan smelter untuk pengolahan limonit dan saprolit di Desa Lalomerui, serta proyek pembangunan PLTS dan smelter milik PT. Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP) di kawasan Matabuangga.

Namun hingga kini, realisasi dari rencana tersebut tak kunjung terlihat.

“Di mana smelter itu? Mana PLTS yang dijanjikan? Semua belum terealisasi,” kata Hendro yang juga dikenal dengan sapaan Egis.

Ia menilai, janji-janji pembangunan tersebut akan sulit terealisasi selama PT. SCM hanya fokus pada kegiatan penambangan dan penjualan ore nikel mentah, tanpa ada progres nyata terhadap pengembangan infrastruktur industri yang dijanjikan.

Lebih lanjut, Hendro menyebut masyarakat Konawe dan Sulawesi Tenggara secara umum sangat menantikan pengembangan kawasan industri di Routa. Selain membuka lapangan kerja bagi puluhan ribu orang, kehadiran smelter juga akan memberikan nilai tambah bagi daerah.

“Kalau benar dibangun, ini bisa jadi peluang besar untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,” katanya.

Sayangnya, harapan tersebut justru berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. PT. SCM disebut lebih fokus pada penjualan ore nikel mentah, bahkan hingga ke Morowali, Sulawesi Tengah.

Aktivitas pengiriman dilakukan melalui dua metode: hauling darat dan pipa besar.

“Ini menunjukkan bahwa orientasi perusahaan lebih ke eksploitasi tambang daripada pengembangan kawasan industri,” ujar Hendro.

Ia juga menyinggung dampak lingkungan yang ditimbulkan, seperti banjir yang sempat melanda Kelurahan Routa, yang diduga kuat sebagai akibat dari aktivitas tambang PT. SCM.

“Kalau seperti ini, masyarakat yang dirugikan. Smelter tidak ada, banjir pun datang,” keluhnya.

Atas dasar itu, Ampuh Sultra mendesak PT. SCM untuk menghentikan praktik yang mereka sebut sebagai “simbiosis parasitisme” di Kecamatan Routa.

“PT. SCM jangan hanya mengambil manfaat, sementara masyarakat menanggung dampaknya. Jangan hanya perusahaan yang merdeka, sementara masyarakat berduka,” tegas Hendro.

Sebagai penutup, pihaknya meminta agar pemerintah mengevaluasi ulang pemberian kuota RKAB yang dinilai tidak masuk akal bagi perusahaan yang disebut sebagai pengelola kawasan industri. Ia juga mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna memperjelas status PT. SCM.

“Pemerintah harus memastikan, apakah PT. SCM ini perusahaan tambang biasa atau benar-benar pengelola kawasan industri. Ini menyangkut nasib ribuan tenaga kerja yang berharap pada pembangunan smelter di Routa,” tutup Hendro.