Kebakaran Lahan 10 Hektare Terjadi di Poleang Utara Bombana, BPBD Kerahkan Tim Gabungan

Bombana, sultranet.com – Kebakaran lahan melanda Desa Wambarema, Kecamatan Poleang Utara, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kebakaran menghanguskan sekitar 10 hektare lahan milik masyarakat yang terdiri atas tanaman jati, kebun jambu dan lahan kosong. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 13.19 WITA pada Rabu (30/9/2026).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana langsung mengerahkan personel ke lokasi setelah menerima laporan mengenai kebakaran. Petugas dikerahkan untuk mengendalikan api sekaligus mencegah kobaran meluas ke area lahan masyarakat lainnya.

Penanganan dilakukan secara bersama dengan melibatkan unsur TNI, Polri dan masyarakat setempat. Tim gabungan berjibaku memadamkan api yang membakar lahan dalam kondisi yang cukup kering akibat musim kemarau.

Petugas melakukan pemadaman selama beberapa jam. Setelah api berhasil dikendalikan, tim melanjutkan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang dapat kembali memicu kebakaran.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 17.00 WITA.

Kebakaran berdampak pada sekitar 10 hektare lahan masyarakat. Area yang terdampak meliputi lahan tanaman jati, kebun jambu dan sebagian lahan kosong.

Tidak hanya melakukan pemadaman, petugas juga melakukan pemantauan di sekitar lokasi untuk memastikan api tidak merambat ke kawasan lain. Kondisi lahan yang kering membuat pengawasan setelah pemadaman tetap diperlukan.

Kepala BPBD Kabupaten Bombana, Drs. Hasdin Ratta, M.Si., mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan selama musim kemarau.

Ia meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran sebagai cara membuka atau membersihkan lahan, terutama jika tidak ada pengawasan langsung terhadap api.

“Dalam kondisi seperti sekarang, khususnya saat musim kemarau, kami mengharapkan seluruh masyarakat tidak membakar atau membuka lahan baru dengan cara membakar apabila tidak diawasi atau dijaga,” ujar Hasdin Ratta.

Menurut Hasdin, kondisi cuaca yang panas dan lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar. Api yang awalnya kecil dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas apabila tidak segera dikendalikan.

“Kondisi alam yang panas membuat tanaman dan lahan menjadi sangat mudah terbakar apabila tidak dilakukan pengawasan dengan baik,” katanya.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul informasi dari pemerintah kecamatan bahwa kebakaran lahan di wilayah Poleang Utara telah terjadi beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir.

Camat Poleang Utara yang ditemui Tim BPBD di lokasi mengatakan, kebakaran lahan di wilayah tersebut telah terjadi sekitar enam kali dalam beberapa bulan terakhir. Kejadian tersebut berlangsung di lokasi yang berbeda.

Frekuensi kejadian tersebut menjadi perhatian pemerintah kecamatan dan BPBD. Kondisi itu menunjukkan perlunya kewaspadaan bersama, terutama ketika masyarakat melakukan aktivitas yang berkaitan dengan penggunaan api di sekitar lahan.

BPBD Bombana menilai pencegahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko karhutla. Pemadaman setelah api meluas membutuhkan personel, waktu dan sumber daya yang lebih besar.

Karena itu, masyarakat diharapkan ikut menjaga lingkungan sekitar dan segera menyampaikan informasi apabila menemukan titik api. Laporan yang diterima lebih awal dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum kebakaran meluas.

Hasdin mengatakan penanganan kebakaran lahan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. BPBD tidak dapat bekerja sendiri karena kondisi setiap lokasi memiliki tantangan yang berbeda.

Menurutnya, koordinasi antara BPBD, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan masyarakat perlu terus diperkuat. Kerja sama tersebut diperlukan untuk mempercepat respons sekaligus meningkatkan upaya pencegahan.

“Pencegahan kebakaran lahan membutuhkan peran serta seluruh pihak. Karena itu, kerja sama lintas sektor harus terus kita pertahankan agar setiap kejadian dapat ditangani dengan cepat,” ujar Hasdin.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan TNI, Polri dan masyarakat yang membantu proses pemadaman di Desa Wambarema. Dukungan tersebut memperkuat upaya petugas dalam mengendalikan kobaran api hingga akhirnya berhasil dipadamkan.

“Semoga kerja sama lintas sektor ini tetap terjaga dengan baik dalam rangka menjaga wilayah kita, sehingga dampak karhutla dapat berkurang dan dapat ditangani dengan baik,” pungkasnya.

Peristiwa kebakaran di Desa Wambarema menjadi salah satu kejadian karhutla yang perlu mendapat perhatian selama musim kemarau. Lahan masyarakat yang ditumbuhi tanaman jati dan tanaman perkebunan lainnya memiliki potensi terdampak apabila api tidak segera dikendalikan.

Kondisi lahan yang kering juga dapat mempercepat penyebaran api. Karena itu, masyarakat yang melakukan aktivitas di sekitar lahan perlu memastikan tidak ada sumber api yang ditinggalkan dalam kondisi masih menyala.

BPBD Bombana juga mengingatkan agar masyarakat tidak membakar semak, rumput kering atau sisa tanaman tanpa pengawasan. Api dari pembakaran terbuka dapat menyebar apabila terkena angin dan bertemu dengan vegetasi yang mudah terbakar.

Selain melakukan pencegahan secara mandiri, masyarakat diminta segera melaporkan kejadian kebakaran kepada pemerintah desa, pemerintah kecamatan, BPBD atau pihak terkait lainnya. Kecepatan laporan menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan penanganan.

Penanganan kebakaran di Desa Wambarema menunjukkan pentingnya respons cepat dan koordinasi di tingkat lapangan. Setelah menerima informasi, BPBD segera mengerahkan personel dan bekerja bersama unsur terkait hingga api berhasil dipadamkan pada sore hari.

Meski kebakaran telah berhasil dipadamkan, kewaspadaan tetap diperlukan. Titik api yang tidak terlihat dapat kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh, terutama pada lahan dengan kondisi kering.

BPBD Kabupaten Bombana memastikan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran lahan tetap menjadi perhatian. Pemerintah daerah juga terus mendorong kerja sama dengan unsur keamanan, pemerintah wilayah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman karhutla.

Kebakaran yang terjadi di Wambarema menjadi pengingat bahwa pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga lahan dan lingkungan dari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Dengan kewaspadaan yang lebih tinggi, penggunaan api yang lebih bertanggung jawab dan koordinasi yang cepat, risiko kebakaran lahan di wilayah Poleang Utara diharapkan dapat ditekan. Pemerintah juga berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dan tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi masyarakat.




Kebakaran 152 Hektare Lahan Terjadi di Kawasan TNRAW Bombana, BPBD Kerahkan Tim Gabungan

Bombana, sultranet.com – Kebakaran lahan melanda kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) di Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kebakaran yang dilaporkan terjadi sekitar pukul 11.08 WITA itu menghanguskan sekitar 152,4 hektare lahan pada Minggu, 27 September 2026.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana langsung mengerahkan personel setelah menerima laporan mengenai kebakaran tersebut. Penanganan dilakukan dengan melibatkan sejumlah unsur untuk mengendalikan api dan mencegah kebakaran meluas ke kawasan lain.

Tim gabungan yang terlibat dalam penanganan terdiri atas personel BPBD Kabupaten Bombana, TNI, Polri, Balai TNRAW, dan Manggala Agni. Mereka bekerja bersama melakukan pemadaman di sejumlah titik yang terdampak kebakaran.

Luas lahan yang terbakar membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan secara intensif. Kondisi lahan serta cuaca pada musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi personel yang berada di lapangan.

Petugas terus melakukan upaya pemadaman hingga kobaran api berhasil dikendalikan. Penanganan juga diarahkan untuk mencegah munculnya titik api baru yang berpotensi memperluas area terdampak.

Kepala BPBD Kabupaten Bombana, Drs. Hasdin Ratta, M.Si., turut turun langsung ke lokasi saat proses penanganan berlangsung. Ia memantau kondisi kawasan yang terdampak sekaligus memastikan proses pemadaman berjalan dengan baik.

Hasdin mengatakan, BPBD Bombana terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada periode musim kemarau.

Menurut dia, kondisi kering pada musim kemarau dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Karena itu, kesiapan personel, kecepatan menerima laporan, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.

“Dalam kondisi yang terjadi saat ini, khususnya saat musim kemarau, kami dan seluruh personel BPBD akan selalu siap dan serius dalam proses penanganan karhutla,” ujar Hasdin Ratta saat berada di lokasi kebakaran.

Ia menjelaskan, kesiapsiagaan BPBD tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Pemerintah daerah juga menyiapkan Posko Siaga Karhutla yang beroperasi selama 24 jam untuk menerima laporan masyarakat.

“Posko kami siaga 24 jam dan siap menerima laporan kapan pun terkait kebakaran hutan dan lahan. Call center kami juga selalu aktif selama 24 jam untuk melayani aduan dari masyarakat,” katanya.

Keberadaan posko tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat respons terhadap setiap laporan kebakaran. Informasi yang diterima dapat segera diteruskan kepada personel untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan.

Hasdin juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam membantu mencegah kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, laporan masyarakat menjadi salah satu sumber informasi penting bagi petugas, terutama ketika kebakaran muncul di wilayah yang sulit dipantau secara langsung.

Ia meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di kawasan hutan dan lahan. Respons yang cepat dinilai dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api meluas.

“Semakin cepat informasi kami terima, semakin cepat juga personel dapat melakukan penanganan di lapangan. Karena itu, kami berharap masyarakat tidak ragu untuk segera melapor jika melihat adanya kebakaran,” ujarnya.

Penanganan kebakaran di kawasan TNRAW juga menunjukkan pentingnya koordinasi lintas sektor. Kawasan konservasi tersebut membutuhkan penanganan yang terkoordinasi karena kebakaran tidak hanya berpotensi mengganggu lingkungan, tetapi juga dapat berdampak terhadap kawasan habitat berbagai jenis satwa dan tumbuhan.

BPBD Bombana mengapresiasi keterlibatan TNI, Polri, Balai TNRAW, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya dalam proses pemadaman. Sinergi tersebut dinilai membantu mempercepat penanganan kebakaran di lapangan.

Hasdin mengatakan, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. BPBD tidak dapat bekerja sendiri karena karakteristik kebakaran hutan dan lahan membutuhkan dukungan personel, peralatan, informasi lapangan, serta koordinasi yang cepat.

“Kami mengapresiasi sinergi seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran ini. BPBD, TNI, Polri, Balai TNRAW, Manggala Agni dan pihak terkait lainnya telah bersama-sama melakukan penanganan di lapangan,” katanya.

Menurutnya, kerja sama tersebut perlu terus dipertahankan, terutama selama kondisi cuaca masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. Koordinasi yang berjalan baik diharapkan dapat mempercepat penanganan apabila kembali ditemukan titik api di wilayah Bombana.

“Semoga kerja sama lintas sektor ini tetap terjaga dengan baik dalam rangka menjaga wilayah kita, sehingga dampak karhutla dapat berkurang dan dapat ditangani dengan baik,” pungkas Hasdin.

Kebakaran di kawasan TNRAW menjadi perhatian karena luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 152,4 hektare. BPBD Bombana bersama unsur terkait terus mendorong kesiapsiagaan dan respons cepat sebagai langkah untuk mengurangi risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

Selain penanganan di lapangan, kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Masyarakat diharapkan ikut menjaga kawasan hutan dan lahan serta segera menyampaikan informasi apabila menemukan tanda-tanda kebakaran.

Dengan dukungan posko siaga 24 jam, personel lapangan, dan koordinasi lintas sektor, BPBD Bombana berupaya memastikan setiap laporan karhutla dapat ditindaklanjuti secara cepat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan TNRAW dan wilayah Bombana dari ancaman kebakaran yang lebih luas.




BPBD Bombana Bantu Padamkan Kebakaran di Kawasan TNRAW, Api Berhasil Dikendalikan

Bombana, sultranet.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana turun langsung membantu penanganan kebakaran yang terjadi di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). BPBD fokus menyuplai air untuk mendukung armada pemadam yang mengalami kendala menjangkau titik api akibat kondisi medan yang sulit, Sabtu (19/9/2026).

Kebakaran tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 12.30 WITA. Setelah menerima informasi kejadian, personel dari sejumlah unsur diterjunkan untuk melakukan penanganan di lokasi. Manggala Agni, TNI, dan Polri turut bergerak bersama untuk memadamkan api dan mencegah kebakaran meluas ke area lain.

BPBD Kabupaten Bombana mengambil peran dalam mendukung kebutuhan air bagi armada yang melakukan pemadaman. Langkah tersebut dilakukan karena titik api berada di kawasan dengan medan yang tidak mudah dilalui kendaraan pemadam BPBD.

Kepala BPBD Kabupaten Bombana, Drs. Hasdin Ratta, M.Si., mengatakan kondisi medan menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemadaman. Posisi titik api membuat armada tertentu tidak dapat mencapai lokasi secara langsung.

“BPBD turun untuk melakukan suplai air di TNRAW karena titik api berada di medan yang sulit dijangkau oleh armada BPBD. Sehingga BPBD fokus melakukan suplai air untuk armada Manggala Agni dan Polri yang bisa menembus hingga ke titik api untuk melakukan pemadaman,” kata Hasdin Ratta.

Menurut Hasdin, pola penanganan tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemadaman tetap berjalan meskipun kondisi lapangan tidak memungkinkan seluruh armada masuk hingga ke titik api. BPBD kemudian mendukung operasi dengan menyediakan pasokan air yang dibutuhkan armada yang berada lebih dekat dengan lokasi kebakaran.

Kebakaran di kawasan TNRAW membutuhkan penanganan cepat karena kondisi kawasan yang memiliki tutupan vegetasi dapat membuat api mudah menjalar apabila tidak segera dikendalikan. Personel gabungan harus bekerja dengan mempertimbangkan kondisi medan dan akses menuju lokasi.

Setelah tiba di kawasan terdampak, personel gabungan melakukan upaya pemadaman pada titik api yang teridentifikasi. Manggala Agni dan personel Polri yang memiliki kemampuan serta akses untuk mencapai lokasi menjadi bagian dari unsur yang melakukan pemadaman secara langsung.

Sementara itu, BPBD Bombana terus mendukung operasi dari sisi ketersediaan air. Suplai air dilakukan untuk menjaga kebutuhan armada pemadam selama proses penanganan berlangsung.

Personel TNI dan Polri juga turut membantu proses penanganan di lapangan. Keterlibatan sejumlah unsur tersebut memperkuat respons terhadap kebakaran dan membantu mempercepat pengendalian api.

Proses pemadaman berlangsung selama beberapa jam. Personel gabungan terus melakukan penanganan hingga titik api dapat dikendalikan.

Sekitar pukul 15.30 WITA, api akhirnya berhasil dipadamkan. Dengan padamnya titik api tersebut, upaya penanganan kebakaran di lokasi dinyatakan berhasil dikendalikan setelah personel gabungan bekerja sejak laporan kejadian diterima.

Hasdin mengatakan dukungan antarinstansi menjadi bagian penting dalam menghadapi kejadian kebakaran di wilayah dengan kondisi medan yang sulit. Setiap unsur menjalankan peran sesuai kemampuan dan kondisi yang dihadapi di lapangan.

“Dalam kondisi seperti ini, yang paling penting adalah bagaimana semua unsur dapat saling mendukung. Armada yang bisa menjangkau titik api melakukan pemadaman, sementara BPBD membantu memenuhi kebutuhan air,” ujarnya.

Penanganan kebakaran di kawasan TNRAW juga menunjukkan pentingnya koordinasi antara lembaga penanggulangan bencana, unsur keamanan, dan petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan. Kolaborasi tersebut memungkinkan proses pemadaman tetap berjalan meski akses menuju lokasi terbatas.

Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Sulawesi Tenggara. Karena itu, kebakaran di kawasan tersebut membutuhkan perhatian serius agar api tidak berkembang menjadi lebih luas dan berdampak terhadap ekosistem di sekitarnya.

Dalam penanganan kejadian kali ini, personel gabungan bergerak dengan membagi peran berdasarkan kondisi lapangan. Manggala Agni dan Polri melakukan pemadaman pada titik yang dapat dijangkau, sementara BPBD Bombana memastikan kebutuhan air tetap tersedia untuk mendukung operasi tersebut.

Kondisi medan menjadi faktor yang cukup menentukan dalam proses penanganan. Akses yang sulit membuat armada tertentu tidak dapat bergerak langsung menuju sumber api. Situasi tersebut membuat dukungan logistik, terutama pasokan air, menjadi bagian penting dalam operasi pemadaman.

Respons cepat juga menjadi faktor penting dalam mencegah api menyebar. Jarak dan kondisi medan dapat memperpanjang waktu tempuh menuju titik kebakaran. Karena itu, koordinasi antara personel di lapangan diperlukan agar setiap sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara efektif.

Kebakaran yang dilaporkan sekitar pukul 12.30 WITA tersebut berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.30 WITA. Selama proses tersebut, personel dari berbagai unsur terus melakukan upaya pemadaman hingga tidak lagi ditemukan titik api yang membutuhkan penanganan lanjutan.

Kolaborasi BPBD Bombana, Manggala Agni, TNI, dan Polri menjadi bagian penting dalam pengendalian kebakaran tersebut. Masing-masing unsur memberikan dukungan sesuai tugas dan kemampuan di lapangan.

Bagi BPBD Bombana, dukungan terhadap pemadaman kebakaran tidak selalu harus dilakukan dengan mengerahkan armada langsung ke titik api. Dalam kondisi tertentu, seperti medan yang sulit dijangkau, penyediaan air dan dukungan logistik menjadi langkah yang lebih efektif untuk membantu petugas yang berada di lokasi.

Penanganan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa respons terhadap kebakaran membutuhkan fleksibilitas sesuai kondisi lapangan. Keterbatasan akses tidak boleh menghambat upaya pemadaman. Dukungan antarinstansi menjadi salah satu cara untuk memastikan operasi tetap berjalan hingga api berhasil dikendalikan.

Dengan berhasilnya pemadaman sekitar pukul 15.30 WITA, kebakaran di lokasi tersebut dapat dicegah agar tidak terus meluas. Personel gabungan selanjutnya memastikan kondisi di sekitar lokasi tetap terkendali setelah proses pemadaman selesai.

Penanganan kebakaran di TNRAW menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kawasan konservasi dari ancaman kebakaran. Kecepatan respons, ketersediaan air, akses menuju titik api, serta koordinasi antarinstansi menjadi faktor penting dalam setiap penanganan kebakaran di kawasan yang memiliki medan sulit.




BPBD Bombana Tangani Kebakaran Lahan di Lantari Jaya dan Rarowatu Utara

Bombana, sultranet.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana mengerahkan personel untuk menangani kebakaran lahan yang terjadi di Desa Watu-Watu, Kecamatan Lantari Jaya, dan Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara. Pemadaman dilakukan bersama unsur TNI dan Polri untuk mencegah api meluas ke area lain, Rabu (16/9/2026).

Petugas BPBD langsung menuju lokasi setelah menerima informasi adanya kebakaran lahan. Penanganan dilakukan dengan memadamkan titik api sekaligus mengantisipasi kemungkinan api kembali menjalar ke kawasan di sekitarnya.

Kebakaran diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 14.00 WITA. Hingga proses penanganan berlangsung, penyebab pasti munculnya api belum diketahui.

Kondisi vegetasi di lokasi menjadi salah satu perhatian petugas. Lahan yang terbakar terdiri atas area yang ditumbuhi ilalang, pepohonan akasia, serta sejumlah titik yang terdapat tanaman sawit. Vegetasi yang mudah terbakar membuat api berpotensi bergerak cepat, terutama ketika kondisi lahan kering.

Dalam proses pemadaman, BPBD mendapat dukungan dari personel Polsek Lantari Jaya dan Babinsa Lantari Jaya. Keterlibatan unsur TNI dan Polri membantu memperkuat penanganan di lapangan, terutama dalam mengendalikan situasi dan memastikan titik api tidak meluas.

Petugas tidak hanya berfokus pada titik yang terlihat terbakar. Area sekitar juga dipantau untuk memastikan tidak terdapat bagian lahan yang masih menyimpan bara atau berpotensi menimbulkan api baru.

Penanganan dilakukan secara cepat karena kebakaran lahan dapat berkembang menjadi lebih luas ketika api bertemu dengan vegetasi kering. Ilalang dan tanaman lainnya yang mudah terbakar dapat menjadi media bagi api untuk menjalar dari satu titik ke titik lain.

Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran lahan. Setelah titik api ditangani, petugas tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi sekitar untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali api.

Selain melakukan penanganan di lapangan, BPBD Kabupaten Bombana juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan. Imbauan tersebut disampaikan menyusul masih tingginya risiko kebakaran pada kawasan yang memiliki vegetasi mudah terbakar.

Kepala BPBD Kabupaten Bombana, Dr. Hasdin Ratta, M.Si., mengatakan wilayah Bombana masih berada dalam kondisi siaga darurat terhadap potensi kebakaran lahan. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan kondisi lingkungan, terutama ketika berada di sekitar kawasan dengan lahan kering.

“Untuk wilayah Kabupaten Bombana saat ini masih dalam kondisi siaga darurat terhadap terjadinya kebakaran lahan. Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap waspada terhadap kondisi cuaca dan lingkungan, khususnya pada area-area yang mudah terbakar,” ujar Hasdin.

Menurut dia, kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran sejak dini. Laporan cepat dari warga dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api berkembang dan menjangkau wilayah yang lebih luas.

Masyarakat juga diminta memperhatikan aktivitas di sekitar lahan yang memiliki vegetasi kering. Sumber api yang kecil dapat berkembang apabila berada di kawasan dengan ilalang, semak, pepohonan, atau tanaman lain yang mudah terbakar.

Karena itu, masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api secara sembarangan, terutama di kawasan yang kondisi lahannya kering. Pengawasan terhadap lingkungan sekitar juga diperlukan untuk mengetahui lebih awal apabila terdapat asap atau titik api.

Apabila menemukan kebakaran lahan, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak terkait. Kecepatan informasi menjadi penting karena penanganan pada tahap awal dapat membantu mencegah api menyebar lebih luas.

Kebakaran di Desa Watu-Watu dan Desa Wumbubangka menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran lahan masih perlu diantisipasi bersama. Penanganan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga membutuhkan kepedulian masyarakat di sekitar lokasi rawan.

BPBD bersama unsur TNI dan Polri terus melakukan penanganan sesuai kondisi di lapangan. Pemantauan terhadap kawasan terdampak juga diperlukan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala setelah proses pemadaman.

Dengan kondisi Kabupaten Bombana yang masih berada dalam status siaga darurat kebakaran lahan, kewaspadaan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko. Masyarakat diharapkan segera memberikan informasi apabila menemukan indikasi kebakaran agar dapat ditindaklanjuti oleh petugas.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih besar. Respons cepat petugas di lapangan dan dukungan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi kebakaran lahan di Kabupaten Bombana.