Tanah di Pasar Panjang Muna Berpolemik, Ramadhan Mengaku Pegang Sertifikat

Muna, sultranet.com – Perselisihan kepemilikan tanah berukuran 10 x 25 meter di kawasan Pasar Panjang, Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, mencuat setelah pembangunan fondasi di atas lahan tersebut tetap berlangsung. Ramadhan, salah satu pihak yang mengklaim kepemilikan, menyatakan memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) atas tanah itu dan meminta penyelesaian melalui jalur hukum.

Ramadhan menjelaskan, tanah tersebut sebelumnya dimiliki Wahida, kemudian beralih kepada H. Are, sebelum akhirnya menjadi miliknya melalui transaksi jual beli. Ia menyebut sertifikat tanah tersebut telah beralih nama menjadi atas namanya.

Agung, yang disebut sebagai adik kandung pemilik sebelumnya, turut membenarkan keterangan mengenai peralihan sertifikat tersebut. Ia mengaku telah memperingatkan pihak yang melakukan pembangunan agar menghentikan pekerjaan fondasi di lokasi sengketa.

“Saya sudah melarang mereka kemarin untuk membuat fondasi di tanah itu. Saya bilang berhenti. Itu tanah orang, ada sertifikatnya,” kata Agung.

Di sisi lain, pihak lain juga mengklaim memiliki hak atas lahan tersebut. Berdasarkan keterangan Ramadhan, pihak yang diwakili kuasa hukum Husen Ely, SH, dan Ramdal, SH, mendasarkan klaimnya pada akta jual beli dari seseorang bernama Alimudin.

Ramadhan menyayangkan pembangunan yang masih berlangsung di tengah perselisihan tersebut. Ia menegaskan akan mempertahankan hak yang menurutnya didukung dokumen kepemilikan.

“Saya punya hak penuh untuk melarang mereka membangun di atas tanah saya, karena saya punya sertifikat sah. Apa pun yang terjadi, saya akan terus pertahankan tanah saya,” ujarnya.

Dalam hukum pertanahan Indonesia, sertifikat merupakan alat bukti yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang tercantum di dalamnya. Namun, penilaian terhadap sengketa kepemilikan tetap perlu mempertimbangkan dokumen para pihak, riwayat peralihan hak, dan kesesuaian objek tanah.

Hingga berita ini disusun, redaksi belum memperoleh keterangan langsung dari Husen Ely, SH, Ramdal, SH, maupun pihak yang mereka wakili. Redaksi juga belum memperoleh konfirmasi dari Kantor Pertanahan Kabupaten Muna mengenai dokumen dan status tanah yang disengketakan.

Redaksi membuka ruang bagi seluruh pihak terkait untuk menyampaikan klarifikasi dan informasi tambahan guna melengkapi pemberitaan.

Penulis: Borju




Turnamen Catur di Muna Gaet Grandmaster Nasional

MUNA, Sultranet.com – Turnamen catur yang digelar oleh Keluarga Besar Alumni SMA Negeri 2 Raha angkatan 2005 berhasil menarik perhatian para pecatur dari berbagai daerah. Acara ini berlangsung selama dua hari, Jumat hingga Sabtu, 30–31 Mei 2025, dan sukses menggaet Grandmaster Wanita Termuda Indonesia, Medina Warda Aulia, serta Fide Arbiter International, Astuti Stefani.

Ketua Panitia, Hasrudin, menyampaikan bahwa turnamen ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan reuni yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi sekaligus berkontribusi nyata bagi masyarakat.

“Setelah turnamen ini, kami akan menggelar bakti sosial berupa donor darah sebagai penutup kegiatan. Harapannya, agenda seperti ini bisa terus berlanjut dan memberi manfaat luas,” kata Hasrudin.

Turnamen ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pengurus Cabang Percasi Muna dan KONI Kabupaten Muna. Ketua Percasi Muna, Tasrim Darjo, berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda tahunan.

“Semoga turnamen seperti ini bisa digelar rutin setiap tahun dan menjadi semangat baru bagi para pecatur muda di daerah ini,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Percasi Sulawesi Tenggara, Usman, juga menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran tokoh nasional dalam dunia catur seperti Medina Warda Aulia menjadi motivasi tersendiri bagi para peserta.

“Turnamen ini sangat bagus, apalagi bisa mendatangkan Grandmaster. Ini adalah momentum penting untuk mengembangkan catur di Sulawesi Tenggara,” ucap Usman.

Wakil Ketua KONI Muna, Yayat Fariki, turut mengapresiasi penyelenggaraan turnamen dan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, termasuk kehadiran Medina yang dinilai memberi warna baru bagi olahraga catur di Muna.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi bisa terus tumbuh dan menjadi kebanggaan daerah,” katanya.

Turnamen ini tak hanya menjadi ajang adu strategi di papan catur, tetapi juga menjadi momen mempererat kolaborasi antara alumni, pecatur muda, dan stakeholder olahraga. Dengan semangat kebersamaan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi tonggak kebangkitan catur di Kabupaten Muna.