GMKI Kendari Imbau Warga Waspadai Kabut Asap, Minta Pemerintah Perkuat Penanganan

Kendari, Sultranet.com – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kendari mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Warga diminta menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Selain itu, GMKI mendesak pemerintah daerah memperluas distribusi masker, menyiagakan fasilitas kesehatan, dan menyampaikan informasi kualitas udara secara berkala. Imbauan tersebut disampaikan menyusul kondisi udara Kendari yang beberapa kali menunjukkan peningkatan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) dalam beberapa hari terakhir, termasuk pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Sekretaris Fungsional Penelitian dan Pengembangan (Sekfung Litbang) GMKI Cabang Kendari periode 2025–2027, Angraeni Karua, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Kota Kendari mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian bersama karena paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

Menurut Angraeni, kabut asap mulai terlihat pada Jumat, 9 Oktober 2026, dengan sebaran yang membentang dari Kecamatan Baruga hingga Kendari Barat. Saat itu, jarak pandang diperkirakan hanya sekitar satu kilometer. Data AQI Kendari juga tercatat mencapai angka 98, yang menempatkan kota tersebut pada posisi kedua tertinggi di Sulawesi setelah Makassar berdasarkan pemantauan yang dirujuk dalam keterangannya.

Kondisi tersebut belum menunjukkan perbaikan berarti pada Senin, 12 Oktober 2026. Kabut asap masih terlihat sejak dini hari dan semakin pekat menjelang sore. Pada hari itu, angka AQI Kendari dilaporkan mencapai 117, yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif dalam skala AQI yang umum digunakan.

Memasuki Selasa, 13 Oktober 2026, kabut asap masih menyelimuti Kota Kendari pada pagi hari dengan nilai AQI sekitar 90. Namun, menjelang siang, indeks tersebut kembali meningkat hingga 109. Perubahan itu menunjukkan bahwa kualitas udara dapat berfluktuasi dalam waktu singkat sehingga masyarakat perlu memperhatikan informasi terbaru sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.

“Kami GMKI Cabang Kendari mengimbau masyarakat dari berbagai kalangan untuk memakai masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama pada pagi hingga malam hari ketika asap lebih pekat, untuk mencegah gangguan pernapasan, khususnya bagi kelompok rentan,” ujar Angraeni.

Ia menegaskan, penggunaan masker merupakan salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan partikel pencemar di udara. Meski demikian, upaya tersebut perlu disertai penanganan yang terarah dari pemerintah agar risiko kesehatan tidak semakin meluas.

“Kami juga mendesak pemerintah daerah memperluas distribusi masker bagi kelompok rentan, menyiagakan fasilitas kesehatan, serta rutin menyampaikan informasi kualitas udara kepada masyarakat,” tambahnya.

Angraeni menjelaskan, indeks kualitas udara atau AQI merupakan sistem yang digunakan untuk menyederhanakan pengukuran polutan menjadi angka yang membantu masyarakat memahami tingkat pencemaran udara dan potensi dampaknya terhadap kesehatan. Skala AQI yang umum digunakan berkisar dari 0 hingga 500. Semakin tinggi angkanya, semakin besar tingkat pencemaran dan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.

Pada skala tersebut, nilai 0–50 menunjukkan kualitas udara baik. Sementara itu, angka 51–100 masuk kategori sedang, yang umumnya masih dapat diterima, tetapi kelompok sensitif dapat mengalami dampak kesehatan akibat paparan polutan tertentu.

Ketika AQI mencapai 101–150, kualitas udara masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau gangguan paru-paru perlu mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan. Pada tingkat ini, paparan polusi dapat memicu iritasi dan memperburuk keluhan pernapasan pada individu yang rentan.

Selanjutnya, AQI 151–200 masuk kategori tidak sehat bagi masyarakat secara umum. Pada rentang 201–300, kualitas udara dikategorikan sangat tidak sehat dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan yang lebih serius. Adapun angka 301–500 menunjukkan kondisi berbahaya sehingga masyarakat perlu mengambil langkah perlindungan yang lebih ketat dan mengikuti arahan otoritas kesehatan.

Dengan kondisi AQI Kendari yang dilaporkan beberapa kali menembus angka 100, masyarakat diimbau tidak mengabaikan kabut asap yang terlihat di lingkungan sekitar. Pemantauan kualitas udara perlu menjadi bagian dari pertimbangan sebelum berolahraga, bekerja di luar ruangan, atau membawa anak-anak beraktivitas di ruang terbuka.

GMKI juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak seharusnya hanya mengandalkan kondisi langit sebagai patokan untuk menilai kualitas udara. Polutan dapat tetap berada di udara meskipun perubahan cuaca tidak menunjukkan tanda yang mencolok. Karena itu, informasi AQI dan imbauan resmi dari instansi terkait penting untuk membantu warga menentukan langkah pencegahan yang sesuai.

Selain mendorong perlindungan kesehatan, GMKI Cabang Kendari menyoroti pentingnya penelusuran sumber kabut asap yang menyelimuti Sulawesi Tenggara. Asap yang terbawa angin dari wilayah lain, seperti Papua, Maluku, dan Kalimantan, disebut sebagai salah satu kemungkinan sumber pencemaran yang berdampak hingga ke daerah ini.

Namun, menurut Angraeni, kabut asap yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir juga perlu ditelusuri kaitannya dengan titik panas atau hotspot lokal di Sulawesi Tenggara, termasuk yang dilaporkan berada di Kabupaten Bombana dan Konawe.

Dugaan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemantauan lapangan dan pemeriksaan oleh instansi berwenang. Data titik panas saja tidak selalu membuktikan adanya kebakaran aktif. Karena itu, verifikasi diperlukan untuk memastikan lokasi, kondisi, serta sumber asap yang berpotensi memengaruhi kualitas udara di Kota Kendari.

Penanganan yang tepat membutuhkan koordinasi antarlembaga, mulai dari instansi lingkungan hidup, badan penanggulangan bencana, dinas kesehatan, hingga pemerintah kabupaten dan kota. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memantau kualitas udara, memeriksa sumber pencemaran, menyampaikan peringatan kepada masyarakat, serta mengambil langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan.

GMKI menilai keterbukaan informasi juga menjadi bagian penting dalam penanganan kabut asap. Masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai perkembangan kualitas udara, wilayah yang terdampak, potensi sumber pencemaran, dan langkah yang sedang dilakukan pemerintah. Informasi tersebut dapat membantu warga menghindari paparan berlebihan sekaligus mencegah berkembangnya informasi yang belum terverifikasi.

Di sisi lain, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi udara sedang buruk dan risiko kebakaran meningkat. Warga juga dapat melaporkan dugaan kebakaran lahan kepada petugas setempat agar dapat segera diperiksa dan ditangani.

Angraeni menegaskan, kabut asap tidak semestinya dipandang hanya sebagai gangguan cuaca yang akan berlalu dengan sendirinya. Kondisi tersebut berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat, kenyamanan beraktivitas, serta kebutuhan akan informasi publik yang dapat dipercaya.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu mengambil langkah cepat dan terukur untuk melindungi warga selama kualitas udara belum stabil. Distribusi masker sebaiknya memprioritaskan kelompok rentan dan masyarakat yang tinggal atau bekerja di wilayah dengan paparan asap lebih tinggi. Fasilitas kesehatan juga perlu disiapkan untuk memberikan pelayanan kepada warga yang mengalami keluhan akibat paparan polusi.

Masyarakat yang mengalami sesak napas, batuk yang memburuk, nyeri dada, atau keluhan pernapasan lain setelah terpapar asap disarankan segera mencari pertolongan medis. Bagi warga yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung, langkah pencegahan perlu dilakukan lebih ketat sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Penggunaan masker juga perlu disesuaikan dengan tingkat paparan. Masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti respirator yang memenuhi standar dan terpasang rapat, lebih sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap dibandingkan masker kain biasa. Namun, masker bukan pengganti upaya mengurangi aktivitas luar ruangan atau mengatasi sumber pencemaran.

GMKI Cabang Kendari berharap pemerintah tidak menunggu hingga kualitas udara memburuk atau jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan meningkat sebelum mengambil tindakan. Pemantauan berkala, komunikasi risiko yang terbuka, kesiapan layanan kesehatan, serta pemeriksaan sumber asap perlu berjalan secara bersamaan.

Organisasi mahasiswa tersebut juga mengajak masyarakat membangun kepedulian bersama dengan membiasakan penggunaan masker saat diperlukan, membatasi aktivitas berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, dan mengikuti perkembangan informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kabut asap ini bukan sekadar gangguan cuaca, melainkan persoalan kesehatan publik. Kami berharap pemerintah bertindak cepat, terukur, dan terbuka agar masyarakat mendapatkan perlindungan yang memadai,” tegas Angraeni.

Ia mengingatkan, keterlambatan penanganan berpotensi memperpanjang paparan polusi dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok yang lebih rentan. Karena itu, kesadaran masyarakat harus berjalan seiring dengan tanggung jawab pemerintah dalam menangani sumber pencemaran dan menyediakan informasi yang akurat.

Untuk memantau perkembangan kualitas udara secara real time, masyarakat dapat mengakses laman IQAir Kendari melalui https://www.iqair.com/id/air-quality/indonesia/southeast-sulawesi/kendari. Informasi tersebut dapat menjadi salah satu rujukan untuk melihat perubahan indeks kualitas udara, dengan tetap memperhatikan pembaruan dari instansi lingkungan hidup dan kesehatan yang berwenang.

GMKI Cabang Kendari berharap upaya bersama antara masyarakat dan pemerintah dapat membantu mengurangi risiko paparan asap, memperkuat perlindungan bagi kelompok rentan, serta mendorong penanganan yang lebih menyeluruh agar kualitas udara di Kota Kendari segera membaik.

Penulis: zull




Kebakaran 152 Hektare Lahan Terjadi di Kawasan TNRAW Bombana, BPBD Kerahkan Tim Gabungan

Bombana, sultranet.com – Kebakaran lahan melanda kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) di Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kebakaran yang dilaporkan terjadi sekitar pukul 11.08 WITA itu menghanguskan sekitar 152,4 hektare lahan pada Minggu, 27 September 2026.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana langsung mengerahkan personel setelah menerima laporan mengenai kebakaran tersebut. Penanganan dilakukan dengan melibatkan sejumlah unsur untuk mengendalikan api dan mencegah kebakaran meluas ke kawasan lain.

Tim gabungan yang terlibat dalam penanganan terdiri atas personel BPBD Kabupaten Bombana, TNI, Polri, Balai TNRAW, dan Manggala Agni. Mereka bekerja bersama melakukan pemadaman di sejumlah titik yang terdampak kebakaran.

Luas lahan yang terbakar membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan secara intensif. Kondisi lahan serta cuaca pada musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi personel yang berada di lapangan.

Petugas terus melakukan upaya pemadaman hingga kobaran api berhasil dikendalikan. Penanganan juga diarahkan untuk mencegah munculnya titik api baru yang berpotensi memperluas area terdampak.

Kepala BPBD Kabupaten Bombana, Drs. Hasdin Ratta, M.Si., turut turun langsung ke lokasi saat proses penanganan berlangsung. Ia memantau kondisi kawasan yang terdampak sekaligus memastikan proses pemadaman berjalan dengan baik.

Hasdin mengatakan, BPBD Bombana terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada periode musim kemarau.

Menurut dia, kondisi kering pada musim kemarau dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Karena itu, kesiapan personel, kecepatan menerima laporan, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.

“Dalam kondisi yang terjadi saat ini, khususnya saat musim kemarau, kami dan seluruh personel BPBD akan selalu siap dan serius dalam proses penanganan karhutla,” ujar Hasdin Ratta saat berada di lokasi kebakaran.

Ia menjelaskan, kesiapsiagaan BPBD tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Pemerintah daerah juga menyiapkan Posko Siaga Karhutla yang beroperasi selama 24 jam untuk menerima laporan masyarakat.

“Posko kami siaga 24 jam dan siap menerima laporan kapan pun terkait kebakaran hutan dan lahan. Call center kami juga selalu aktif selama 24 jam untuk melayani aduan dari masyarakat,” katanya.

Keberadaan posko tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat respons terhadap setiap laporan kebakaran. Informasi yang diterima dapat segera diteruskan kepada personel untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan.

Hasdin juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam membantu mencegah kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, laporan masyarakat menjadi salah satu sumber informasi penting bagi petugas, terutama ketika kebakaran muncul di wilayah yang sulit dipantau secara langsung.

Ia meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di kawasan hutan dan lahan. Respons yang cepat dinilai dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api meluas.

“Semakin cepat informasi kami terima, semakin cepat juga personel dapat melakukan penanganan di lapangan. Karena itu, kami berharap masyarakat tidak ragu untuk segera melapor jika melihat adanya kebakaran,” ujarnya.

Penanganan kebakaran di kawasan TNRAW juga menunjukkan pentingnya koordinasi lintas sektor. Kawasan konservasi tersebut membutuhkan penanganan yang terkoordinasi karena kebakaran tidak hanya berpotensi mengganggu lingkungan, tetapi juga dapat berdampak terhadap kawasan habitat berbagai jenis satwa dan tumbuhan.

BPBD Bombana mengapresiasi keterlibatan TNI, Polri, Balai TNRAW, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya dalam proses pemadaman. Sinergi tersebut dinilai membantu mempercepat penanganan kebakaran di lapangan.

Hasdin mengatakan, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. BPBD tidak dapat bekerja sendiri karena karakteristik kebakaran hutan dan lahan membutuhkan dukungan personel, peralatan, informasi lapangan, serta koordinasi yang cepat.

“Kami mengapresiasi sinergi seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran ini. BPBD, TNI, Polri, Balai TNRAW, Manggala Agni dan pihak terkait lainnya telah bersama-sama melakukan penanganan di lapangan,” katanya.

Menurutnya, kerja sama tersebut perlu terus dipertahankan, terutama selama kondisi cuaca masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. Koordinasi yang berjalan baik diharapkan dapat mempercepat penanganan apabila kembali ditemukan titik api di wilayah Bombana.

“Semoga kerja sama lintas sektor ini tetap terjaga dengan baik dalam rangka menjaga wilayah kita, sehingga dampak karhutla dapat berkurang dan dapat ditangani dengan baik,” pungkas Hasdin.

Kebakaran di kawasan TNRAW menjadi perhatian karena luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 152,4 hektare. BPBD Bombana bersama unsur terkait terus mendorong kesiapsiagaan dan respons cepat sebagai langkah untuk mengurangi risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

Selain penanganan di lapangan, kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Masyarakat diharapkan ikut menjaga kawasan hutan dan lahan serta segera menyampaikan informasi apabila menemukan tanda-tanda kebakaran.

Dengan dukungan posko siaga 24 jam, personel lapangan, dan koordinasi lintas sektor, BPBD Bombana berupaya memastikan setiap laporan karhutla dapat ditindaklanjuti secara cepat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan TNRAW dan wilayah Bombana dari ancaman kebakaran yang lebih luas.




BPBD Bombana Bantu Padamkan Kebakaran di Kawasan TNRAW, Api Berhasil Dikendalikan

Bombana, sultranet.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana turun langsung membantu penanganan kebakaran yang terjadi di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). BPBD fokus menyuplai air untuk mendukung armada pemadam yang mengalami kendala menjangkau titik api akibat kondisi medan yang sulit, Sabtu (19/9/2026).

Kebakaran tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 12.30 WITA. Setelah menerima informasi kejadian, personel dari sejumlah unsur diterjunkan untuk melakukan penanganan di lokasi. Manggala Agni, TNI, dan Polri turut bergerak bersama untuk memadamkan api dan mencegah kebakaran meluas ke area lain.

BPBD Kabupaten Bombana mengambil peran dalam mendukung kebutuhan air bagi armada yang melakukan pemadaman. Langkah tersebut dilakukan karena titik api berada di kawasan dengan medan yang tidak mudah dilalui kendaraan pemadam BPBD.

Kepala BPBD Kabupaten Bombana, Drs. Hasdin Ratta, M.Si., mengatakan kondisi medan menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemadaman. Posisi titik api membuat armada tertentu tidak dapat mencapai lokasi secara langsung.

“BPBD turun untuk melakukan suplai air di TNRAW karena titik api berada di medan yang sulit dijangkau oleh armada BPBD. Sehingga BPBD fokus melakukan suplai air untuk armada Manggala Agni dan Polri yang bisa menembus hingga ke titik api untuk melakukan pemadaman,” kata Hasdin Ratta.

Menurut Hasdin, pola penanganan tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemadaman tetap berjalan meskipun kondisi lapangan tidak memungkinkan seluruh armada masuk hingga ke titik api. BPBD kemudian mendukung operasi dengan menyediakan pasokan air yang dibutuhkan armada yang berada lebih dekat dengan lokasi kebakaran.

Kebakaran di kawasan TNRAW membutuhkan penanganan cepat karena kondisi kawasan yang memiliki tutupan vegetasi dapat membuat api mudah menjalar apabila tidak segera dikendalikan. Personel gabungan harus bekerja dengan mempertimbangkan kondisi medan dan akses menuju lokasi.

Setelah tiba di kawasan terdampak, personel gabungan melakukan upaya pemadaman pada titik api yang teridentifikasi. Manggala Agni dan personel Polri yang memiliki kemampuan serta akses untuk mencapai lokasi menjadi bagian dari unsur yang melakukan pemadaman secara langsung.

Sementara itu, BPBD Bombana terus mendukung operasi dari sisi ketersediaan air. Suplai air dilakukan untuk menjaga kebutuhan armada pemadam selama proses penanganan berlangsung.

Personel TNI dan Polri juga turut membantu proses penanganan di lapangan. Keterlibatan sejumlah unsur tersebut memperkuat respons terhadap kebakaran dan membantu mempercepat pengendalian api.

Proses pemadaman berlangsung selama beberapa jam. Personel gabungan terus melakukan penanganan hingga titik api dapat dikendalikan.

Sekitar pukul 15.30 WITA, api akhirnya berhasil dipadamkan. Dengan padamnya titik api tersebut, upaya penanganan kebakaran di lokasi dinyatakan berhasil dikendalikan setelah personel gabungan bekerja sejak laporan kejadian diterima.

Hasdin mengatakan dukungan antarinstansi menjadi bagian penting dalam menghadapi kejadian kebakaran di wilayah dengan kondisi medan yang sulit. Setiap unsur menjalankan peran sesuai kemampuan dan kondisi yang dihadapi di lapangan.

“Dalam kondisi seperti ini, yang paling penting adalah bagaimana semua unsur dapat saling mendukung. Armada yang bisa menjangkau titik api melakukan pemadaman, sementara BPBD membantu memenuhi kebutuhan air,” ujarnya.

Penanganan kebakaran di kawasan TNRAW juga menunjukkan pentingnya koordinasi antara lembaga penanggulangan bencana, unsur keamanan, dan petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan. Kolaborasi tersebut memungkinkan proses pemadaman tetap berjalan meski akses menuju lokasi terbatas.

Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Sulawesi Tenggara. Karena itu, kebakaran di kawasan tersebut membutuhkan perhatian serius agar api tidak berkembang menjadi lebih luas dan berdampak terhadap ekosistem di sekitarnya.

Dalam penanganan kejadian kali ini, personel gabungan bergerak dengan membagi peran berdasarkan kondisi lapangan. Manggala Agni dan Polri melakukan pemadaman pada titik yang dapat dijangkau, sementara BPBD Bombana memastikan kebutuhan air tetap tersedia untuk mendukung operasi tersebut.

Kondisi medan menjadi faktor yang cukup menentukan dalam proses penanganan. Akses yang sulit membuat armada tertentu tidak dapat bergerak langsung menuju sumber api. Situasi tersebut membuat dukungan logistik, terutama pasokan air, menjadi bagian penting dalam operasi pemadaman.

Respons cepat juga menjadi faktor penting dalam mencegah api menyebar. Jarak dan kondisi medan dapat memperpanjang waktu tempuh menuju titik kebakaran. Karena itu, koordinasi antara personel di lapangan diperlukan agar setiap sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara efektif.

Kebakaran yang dilaporkan sekitar pukul 12.30 WITA tersebut berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.30 WITA. Selama proses tersebut, personel dari berbagai unsur terus melakukan upaya pemadaman hingga tidak lagi ditemukan titik api yang membutuhkan penanganan lanjutan.

Kolaborasi BPBD Bombana, Manggala Agni, TNI, dan Polri menjadi bagian penting dalam pengendalian kebakaran tersebut. Masing-masing unsur memberikan dukungan sesuai tugas dan kemampuan di lapangan.

Bagi BPBD Bombana, dukungan terhadap pemadaman kebakaran tidak selalu harus dilakukan dengan mengerahkan armada langsung ke titik api. Dalam kondisi tertentu, seperti medan yang sulit dijangkau, penyediaan air dan dukungan logistik menjadi langkah yang lebih efektif untuk membantu petugas yang berada di lokasi.

Penanganan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa respons terhadap kebakaran membutuhkan fleksibilitas sesuai kondisi lapangan. Keterbatasan akses tidak boleh menghambat upaya pemadaman. Dukungan antarinstansi menjadi salah satu cara untuk memastikan operasi tetap berjalan hingga api berhasil dikendalikan.

Dengan berhasilnya pemadaman sekitar pukul 15.30 WITA, kebakaran di lokasi tersebut dapat dicegah agar tidak terus meluas. Personel gabungan selanjutnya memastikan kondisi di sekitar lokasi tetap terkendali setelah proses pemadaman selesai.

Penanganan kebakaran di TNRAW menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kawasan konservasi dari ancaman kebakaran. Kecepatan respons, ketersediaan air, akses menuju titik api, serta koordinasi antarinstansi menjadi faktor penting dalam setiap penanganan kebakaran di kawasan yang memiliki medan sulit.




BPBD Bombana Tangani Kebakaran Lahan di Lantari Jaya dan Rarowatu Utara

Bombana, sultranet.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana mengerahkan personel untuk menangani kebakaran lahan yang terjadi di Desa Watu-Watu, Kecamatan Lantari Jaya, dan Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara. Pemadaman dilakukan bersama unsur TNI dan Polri untuk mencegah api meluas ke area lain, Rabu (16/9/2026).

Petugas BPBD langsung menuju lokasi setelah menerima informasi adanya kebakaran lahan. Penanganan dilakukan dengan memadamkan titik api sekaligus mengantisipasi kemungkinan api kembali menjalar ke kawasan di sekitarnya.

Kebakaran diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 14.00 WITA. Hingga proses penanganan berlangsung, penyebab pasti munculnya api belum diketahui.

Kondisi vegetasi di lokasi menjadi salah satu perhatian petugas. Lahan yang terbakar terdiri atas area yang ditumbuhi ilalang, pepohonan akasia, serta sejumlah titik yang terdapat tanaman sawit. Vegetasi yang mudah terbakar membuat api berpotensi bergerak cepat, terutama ketika kondisi lahan kering.

Dalam proses pemadaman, BPBD mendapat dukungan dari personel Polsek Lantari Jaya dan Babinsa Lantari Jaya. Keterlibatan unsur TNI dan Polri membantu memperkuat penanganan di lapangan, terutama dalam mengendalikan situasi dan memastikan titik api tidak meluas.

Petugas tidak hanya berfokus pada titik yang terlihat terbakar. Area sekitar juga dipantau untuk memastikan tidak terdapat bagian lahan yang masih menyimpan bara atau berpotensi menimbulkan api baru.

Penanganan dilakukan secara cepat karena kebakaran lahan dapat berkembang menjadi lebih luas ketika api bertemu dengan vegetasi kering. Ilalang dan tanaman lainnya yang mudah terbakar dapat menjadi media bagi api untuk menjalar dari satu titik ke titik lain.

Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran lahan. Setelah titik api ditangani, petugas tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi sekitar untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali api.

Selain melakukan penanganan di lapangan, BPBD Kabupaten Bombana juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan. Imbauan tersebut disampaikan menyusul masih tingginya risiko kebakaran pada kawasan yang memiliki vegetasi mudah terbakar.

Kepala BPBD Kabupaten Bombana, Dr. Hasdin Ratta, M.Si., mengatakan wilayah Bombana masih berada dalam kondisi siaga darurat terhadap potensi kebakaran lahan. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan kondisi lingkungan, terutama ketika berada di sekitar kawasan dengan lahan kering.

“Untuk wilayah Kabupaten Bombana saat ini masih dalam kondisi siaga darurat terhadap terjadinya kebakaran lahan. Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap waspada terhadap kondisi cuaca dan lingkungan, khususnya pada area-area yang mudah terbakar,” ujar Hasdin.

Menurut dia, kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran sejak dini. Laporan cepat dari warga dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api berkembang dan menjangkau wilayah yang lebih luas.

Masyarakat juga diminta memperhatikan aktivitas di sekitar lahan yang memiliki vegetasi kering. Sumber api yang kecil dapat berkembang apabila berada di kawasan dengan ilalang, semak, pepohonan, atau tanaman lain yang mudah terbakar.

Karena itu, masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api secara sembarangan, terutama di kawasan yang kondisi lahannya kering. Pengawasan terhadap lingkungan sekitar juga diperlukan untuk mengetahui lebih awal apabila terdapat asap atau titik api.

Apabila menemukan kebakaran lahan, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak terkait. Kecepatan informasi menjadi penting karena penanganan pada tahap awal dapat membantu mencegah api menyebar lebih luas.

Kebakaran di Desa Watu-Watu dan Desa Wumbubangka menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran lahan masih perlu diantisipasi bersama. Penanganan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga membutuhkan kepedulian masyarakat di sekitar lokasi rawan.

BPBD bersama unsur TNI dan Polri terus melakukan penanganan sesuai kondisi di lapangan. Pemantauan terhadap kawasan terdampak juga diperlukan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala setelah proses pemadaman.

Dengan kondisi Kabupaten Bombana yang masih berada dalam status siaga darurat kebakaran lahan, kewaspadaan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko. Masyarakat diharapkan segera memberikan informasi apabila menemukan indikasi kebakaran agar dapat ditindaklanjuti oleh petugas.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih besar. Respons cepat petugas di lapangan dan dukungan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi kebakaran lahan di Kabupaten Bombana.




Sambut HUT TNI ke-81, BPBD Bombana Ikut Kerja Bakti di Pasar Sentral Tadoha Mapacing

Bombana, sultranet.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana mengerahkan sejumlah personel untuk mengikuti kerja bakti bersama dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) Tahun 2026. Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Pasar Sentral Tadoha Mapacing dan melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, pelajar serta tenaga pendidik, Jumat (11/9/2026).

Kerja bakti tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyambut HUT TNI ke-81 sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan antarinstansi dalam menjaga kebersihan fasilitas umum.

Sejumlah unsur terlibat dalam kegiatan tersebut. Selain personel TNI dan Polri, kegiatan diikuti BPBD Kabupaten Bombana, Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta para guru dan siswa-siswi dari sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah dasar (SD) yang berada di sekitar kawasan Pasar Tadoha Mapacing.

Kegiatan diawali dengan apel gelar pasukan. Apel tersebut dilakukan sebelum peserta menuju lokasi pembersihan untuk memastikan seluruh personel memahami tugas dan sasaran kerja bakti.

Dalam apel tersebut, peserta menerima arahan mengenai pelaksanaan kegiatan. Pembagian kelompok juga dilakukan untuk menentukan titik-titik yang menjadi sasaran pembersihan masing-masing unsur.

Setelah apel selesai, peserta bergerak menuju lokasi yang telah ditentukan. Personel dari berbagai instansi kemudian bekerja bersama membersihkan lingkungan di sekitar Pasar Sentral Tadoha Mapacing.

Kegiatan berlangsung dengan semangat gotong royong. Personel TNI, Polri, BPBD, perangkat pemerintah daerah, guru dan pelajar bekerja bersama menangani berbagai bagian lingkungan yang menjadi sasaran pembersihan.

Keterlibatan pelajar menjadi salah satu bagian dari kegiatan tersebut. Para siswa ikut turun langsung bersama personel dan unsur pemerintah untuk membersihkan kawasan di sekitar fasilitas umum.

Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi pelajar untuk terlibat dalam aktivitas sosial sekaligus mengenal pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kehadiran para guru juga turut mendampingi keterlibatan siswa selama kegiatan berlangsung.

Bagi BPBD Kabupaten Bombana, keterlibatan dalam kerja bakti tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap kegiatan lintas sektor. BPBD tidak hanya menjalankan tugas yang berkaitan dengan penanggulangan bencana, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam kegiatan bersama yang mendukung kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Kawasan pasar menjadi salah satu ruang publik yang membutuhkan perhatian bersama. Aktivitas masyarakat yang berlangsung di kawasan tersebut membuat kebersihan lingkungan perlu dijaga secara berkelanjutan.

Kerja bakti tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan pasar yang lebih bersih dan nyaman. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut mengingatkan seluruh pihak bahwa kebersihan fasilitas umum membutuhkan keterlibatan bersama.

Kegiatan menyambut HUT TNI ke-81 juga tidak hanya menjadi momentum peringatan hari ulang tahun institusi. Kerja bakti menjadi sarana memperkuat hubungan dan koordinasi antara TNI, Polri, pemerintah daerah dan masyarakat.

Sinergi lintas sektor menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan. Setiap instansi memiliki peran yang berbeda, tetapi dapat bekerja bersama ketika menghadapi kepentingan yang menyangkut masyarakat luas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bombana menurunkan sejumlah personel untuk mendukung kegiatan tersebut. Kehadiran personel BPBD menjadi bentuk partisipasi pemerintah daerah dalam kegiatan yang melibatkan berbagai unsur di Kabupaten Bombana.

Kegiatan kerja bakti juga memperlihatkan pentingnya gotong royong dalam menyelesaikan persoalan lingkungan. Pembersihan kawasan pasar dapat dilakukan lebih efektif ketika banyak pihak terlibat secara bersama-sama.

Selain membersihkan lingkungan, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi setiap unsur untuk membangun komunikasi di lapangan. Pertemuan dalam kegiatan bersama dapat memperkuat hubungan kerja antarinstansi.

Semangat kebersamaan menjadi salah satu pesan penting dari kegiatan tersebut. TNI, Polri, pemerintah daerah, tenaga pendidik dan pelajar dapat mengambil bagian sesuai dengan peran masing-masing.

Kegiatan yang dilakukan di fasilitas umum seperti pasar juga memiliki dampak langsung terhadap masyarakat. Lingkungan yang lebih bersih dapat mendukung aktivitas warga dan menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi pedagang maupun pengunjung.

Karena itu, menjaga kebersihan tidak seharusnya hanya dilakukan ketika ada kegiatan kerja bakti. Kebersihan kawasan pasar membutuhkan perhatian secara rutin dari pengelola, pedagang, masyarakat dan pemerintah.

Kerja bakti dalam rangka HUT TNI ke-81 menjadi salah satu momentum untuk mendorong kesadaran tersebut. Keterlibatan berbagai unsur menunjukkan bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Para pelajar yang ikut dalam kegiatan juga mendapat pengalaman langsung mengenai pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Aktivitas tersebut dapat menjadi bagian dari pembiasaan untuk menjaga kebersihan di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal.

Bagi pemerintah daerah, kegiatan lintas sektor seperti ini dapat memperkuat semangat kebersamaan dalam menjalankan berbagai agenda kemasyarakatan. Kolaborasi yang terbangun diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat dilanjutkan melalui kegiatan lain yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Keterlibatan BPBD juga menunjukkan dukungan terhadap kegiatan yang mendorong kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Semangat gotong royong dapat menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih tertib dan nyaman.

Pasar Sentral Tadoha Mapacing menjadi lokasi yang dipilih dalam kegiatan tersebut karena merupakan salah satu kawasan fasilitas umum yang menjadi ruang aktivitas masyarakat. Kebersihan di kawasan pasar memiliki kaitan langsung dengan kenyamanan warga yang beraktivitas di dalamnya.

Sebelum pembersihan dilakukan, apel gelar pasukan menjadi tahapan awal untuk mengatur pelaksanaan kegiatan. Pembagian tugas dan titik pembersihan dilakukan agar kegiatan dapat berlangsung secara terarah.

Setelah menerima arahan, seluruh peserta menjalankan tugas di lokasi masing-masing. Kerja bersama tersebut dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur yang telah hadir sejak kegiatan dimulai.

Kehadiran TNI dan Polri bersama unsur pemerintah daerah juga memperlihatkan adanya koordinasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sementara keterlibatan guru dan pelajar memperluas partisipasi masyarakat dalam kegiatan menjaga kebersihan lingkungan.

Momentum HUT TNI ke-81 menjadi kesempatan untuk memperkuat soliditas di Kabupaten Bombana. Kegiatan bersama seperti kerja bakti dapat menciptakan ruang interaksi yang lebih dekat antara aparat, pemerintah dan masyarakat.

Semangat tersebut penting untuk terus dijaga. Hubungan yang baik antarunsur dapat mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan yang membutuhkan kerja bersama di tingkat daerah.

Kerja bakti di Pasar Sentral Tadoha Mapacing juga diharapkan dapat memberikan contoh bahwa menjaga kebersihan fasilitas umum membutuhkan kepedulian bersama. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dan berbagai unsur lainnya.

Karena itu, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda menyambut HUT TNI. Kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan perlu diteruskan dalam aktivitas sehari-hari.

Masyarakat yang menggunakan fasilitas pasar juga memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan kawasan dapat membantu mempertahankan hasil pembersihan yang telah dilakukan.

Pemerintah daerah melalui instansi terkait juga memiliki peran dalam memastikan kebersihan fasilitas umum tetap terjaga. Koordinasi dengan masyarakat dan pengelola fasilitas diperlukan agar kebersihan dapat dipelihara secara berkelanjutan.

Kerja bakti tersebut menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana berbagai pihak dapat mengambil peran dalam menjaga lingkungan. TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, guru, pelajar dan unsur masyarakat dapat bekerja dalam satu kegiatan dengan tujuan yang sama.

Selain menghasilkan lingkungan yang lebih bersih, kegiatan tersebut memperkuat pesan mengenai pentingnya gotong royong. Semangat tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang perlu terus dipelihara.

Dalam rangkaian peringatan HUT TNI ke-81 Tahun 2026, kegiatan kerja bakti di Pasar Sentral Tadoha Mapacing menjadi salah satu bentuk kegiatan yang menyentuh langsung ruang publik. Kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan aparat, tetapi juga mengajak unsur pendidikan dan masyarakat untuk berpartisipasi.

BPBD Kabupaten Bombana turut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap kerja bersama lintas sektor. Kehadiran personel BPBD diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan unsur lainnya dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Melalui kegiatan tersebut, semangat gotong royong dan kepedulian terhadap kebersihan diharapkan terus tumbuh di tengah masyarakat. Kebersihan fasilitas umum seperti pasar membutuhkan komitmen bersama agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Kerja bakti di kawasan Pasar Sentral Tadoha Mapacing sekaligus menjadi momentum untuk mempererat soliditas TNI, Polri, pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Bombana. Semangat kebersamaan yang dibangun melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat terus dilanjutkan dalam berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.




Kebakaran Kembali Terjadi di TNRAW, BPBD Bombana Kerahkan Tim Gabungan

Bombana, sultranet.com — Kebakaran kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW), Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana bersama TNI, Polri, dan Manggala Agni langsung melakukan penanganan untuk mengendalikan kobaran api agar tidak meluas ke kawasan konservasi di sekitarnya, Minggu (6/9/2026).

Kebakaran diketahui terjadi sekitar pukul 11.54 WITA. Setelah menerima informasi mengenai adanya kobaran api di kawasan TNRAW, BPBD Bombana segera mengerahkan personel menuju lokasi untuk melakukan upaya pemadaman dan pengendalian.

Langkah cepat tersebut dilakukan untuk mencegah api menjalar ke area yang lebih luas. Kondisi kawasan TNRAW yang memiliki ekosistem penting membuat setiap kejadian kebakaran perlu mendapat penanganan secara cepat dan terkoordinasi.

Kepala BPBD Bombana Hasdin Ratta, M.Si., mengatakan penanganan kebakaran dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan sejumlah unsur yang memiliki kapasitas dalam penanggulangan kebakaran dan bencana.

“Sinergi antara BPBD, TNI, Polri, dan Manggala Agni dilakukan untuk mempercepat penanganan di lapangan, mengingat kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai merupakan wilayah yang memiliki ekosistem penting dan perlu mendapat perlindungan dari ancaman kebakaran,” ujar Hasdin Ratta.

Menurut dia, keterlibatan lintas instansi menjadi bagian penting dalam menghadapi kebakaran di kawasan TNRAW. Penanganan tidak hanya diarahkan untuk memadamkan titik api, tetapi juga mengendalikan pergerakan kobaran agar tidak berkembang dan mengancam wilayah lainnya.

BPBD Bombana menurunkan personel untuk melakukan penanganan langsung di lokasi. Dalam pelaksanaannya, personel BPBD berkoordinasi dengan TNI dan Polri yang turut dikerahkan untuk membantu proses pemadaman.

Manggala Agni juga terlibat dalam operasi tersebut. Kehadiran personel yang memiliki pengalaman dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan diharapkan dapat memperkuat upaya pengendalian api di kawasan konservasi.

Tim gabungan bergerak melakukan pemadaman pada area yang terdampak kebakaran. Upaya tersebut dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi di lapangan, terutama untuk memastikan kobaran api tidak menjalar ke kawasan lain.

Penanganan kebakaran di kawasan TNRAW memiliki tantangan tersendiri. Kawasan konservasi memiliki kondisi lingkungan yang harus diperhatikan selama proses pemadaman. Karena itu, koordinasi antarpersonel menjadi penting agar penanganan berjalan efektif sekaligus tetap memperhatikan keselamatan petugas dan kelestarian kawasan.

BPBD Bombana terus memantau perkembangan kondisi di lokasi bersama unsur yang terlibat dalam penanganan. Pemantauan diperlukan untuk memastikan titik api yang telah ditangani tidak kembali membesar atau menyebar ke area lain.

Kebakaran di kawasan taman nasional juga menjadi perhatian karena ancamannya tidak hanya berkaitan dengan kerusakan vegetasi. Api yang menyebar dapat mengganggu habitat satwa serta mengancam keseimbangan ekosistem yang berada di dalam kawasan konservasi.

Karena itu, setiap upaya pemadaman dilakukan dengan tujuan menekan dampak kebakaran sejak awal. Respons cepat menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih besar dan membutuhkan penanganan yang lebih luas.

Keterlibatan TNI dan Polri juga memperlihatkan pentingnya dukungan lintas sektor dalam penanggulangan bencana. Selain membantu tenaga di lapangan, koordinasi antarinstansi memungkinkan penanganan dilakukan secara lebih terorganisasi.

Begitu pula dengan keterlibatan Manggala Agni yang memperkuat kapasitas teknis dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga kawasan TNRAW dari ancaman kebakaran.

BPBD Bombana menempatkan penanganan kebakaran sebagai langkah prioritas ketika ditemukan adanya titik api. Respons tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko meluasnya kebakaran sekaligus melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak yang lebih besar.

Tim gabungan juga terus melakukan pengendalian di lokasi untuk memastikan kobaran api dapat ditekan. Setiap perkembangan di lapangan menjadi bagian dari evaluasi penanganan, terutama untuk menentukan langkah lanjutan apabila masih ditemukan titik api atau potensi penyebaran.

Hasdin menegaskan bahwa perlindungan terhadap kawasan konservasi membutuhkan kerja bersama. BPBD tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi kebakaran di wilayah yang memiliki karakteristik khusus seperti TNRAW.

Kolaborasi dengan TNI, Polri, Manggala Agni dan unsur terkait lainnya menjadi bagian penting dalam mempercepat respons ketika terjadi kebakaran. Dengan koordinasi yang baik, penanganan diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.

Selain penanganan ketika kebakaran terjadi, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran juga perlu terus ditingkatkan. Kawasan konservasi membutuhkan perhatian bersama karena memiliki fungsi ekologis yang penting bagi lingkungan dan masyarakat.

Kebakaran yang terjadi di TNRAW menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan membutuhkan respons yang cepat serta dukungan berbagai pihak. Upaya pemadaman bukan hanya untuk menghentikan api, tetapi juga mencegah kerusakan yang lebih luas terhadap kawasan konservasi.

Dengan bergeraknya tim gabungan sejak awal kejadian, BPBD Bombana berharap kobaran api dapat segera dikendalikan dan tidak berkembang ke wilayah yang lebih luas. Penanganan di lapangan terus dilakukan dengan mengutamakan koordinasi dan keselamatan personel.

Pemerintah daerah melalui BPBD juga terus mendorong penguatan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Penanganan kebakaran menjadi salah satu bentuk kesiapan tersebut, terutama ketika kejadian berlangsung di kawasan yang memiliki nilai ekologis penting.

Upaya bersama BPBD, TNI, Polri, dan Manggala Agni diharapkan dapat mempercepat pemadaman sekaligus meminimalkan dampak kebakaran terhadap lingkungan. Perlindungan TNRAW menjadi tanggung jawab bersama agar fungsi kawasan konservasi tetap terjaga untuk generasi mendatang.




Cegah Karhutla, BPBD Bombana Sosialisasikan Stop Karhutla di Jalur Bombana-Kendari

Bombana, sultranet.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana bersama TNI, Polri, Pemadam Kebakaran (Damkar), dan Manggala Agni menggelar show of force sekaligus sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kepada masyarakat dan pengguna jalan di kawasan padang savana Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) atau kawasan PPA. Kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau, Jumat (4/9/2026).

Sosialisasi menyasar pengguna kendaraan yang melintas di jalur Bombana-Kendari dan sebaliknya. Kawasan padang savana yang berada di sepanjang jalur tersebut menjadi salah satu titik perhatian karena kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau dapat meningkatkan risiko kebakaran apabila terkena sumber api.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala BPBD Kabupaten Bombana bersama Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) serta personel BPBD yang tergabung dalam Satgas Karhutla turun langsung ke lapangan. Petugas membagikan brosur bertuliskan “Stop Karhutla” kepada pengendara yang melintas sekaligus menyampaikan imbauan agar masyarakat ikut menjaga kawasan dari ancaman kebakaran.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan. BPBD tidak hanya menyiapkan personel untuk merespons ketika kebakaran terjadi, tetapi juga meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar potensi kebakaran dapat ditekan sejak awal.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bombana, Awang, S.Pd., M.Pd., mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi kawasan padang savana PPA, terutama selama kondisi cuaca kering.

“Masyarakat kami imbau agar lebih berhati-hati ketika melintas di kawasan padang savana PPA. Jangan melakukan aktivitas yang dapat memicu timbulnya percikan api, karena kondisi cuaca saat ini sedang mengalami kemarau sehingga sangat rawan terjadi kebakaran,” ujar Awang.

Menurut Awang, kondisi kawasan yang kering membuat sumber api sekecil apa pun berpotensi menimbulkan kebakaran. Karena itu, masyarakat yang melintas maupun melakukan aktivitas di sekitar kawasan tersebut diminta tidak melakukan tindakan yang dapat memicu munculnya api.

Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada pengguna jalan agar tidak membuang benda yang berpotensi menjadi sumber api. Kebiasaan sederhana seperti membuang puntung rokok sembarangan dapat menimbulkan risiko ketika berada di kawasan dengan vegetasi yang kering.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran terbuka di sekitar kawasan rawan. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat menyebar apabila bertemu dengan vegetasi kering dan kondisi angin yang mendukung.

Kegiatan show of force tersebut menjadi bagian dari upaya memperlihatkan kesiapan pemerintah daerah bersama unsur terkait dalam menghadapi ancaman Karhutla. Namun, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada penanganan, melainkan juga mengedepankan pencegahan melalui keterlibatan masyarakat.

BPBD Bombana menilai masyarakat memiliki posisi penting dalam upaya mengurangi risiko kebakaran. Sebab, masyarakat merupakan pihak yang berada paling dekat dengan lingkungan dan dapat menjadi sumber informasi awal apabila menemukan adanya asap atau titik api.

Karena itu, kesadaran masyarakat untuk segera melaporkan potensi kebakaran menjadi bagian penting dari sistem kesiapsiagaan. Informasi yang diterima lebih awal dapat membantu petugas menentukan langkah penanganan sebelum api berkembang menjadi lebih besar.

Dalam pelaksanaan sosialisasi, personel BPBD juga berkoordinasi dengan unsur TNI, Polri, Damkar, dan Manggala Agni. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pencegahan Karhutla membutuhkan kerja bersama, terutama ketika ancaman kebakaran berada di kawasan yang memiliki nilai ekologis penting.

Kawasan TNRAW merupakan salah satu kawasan konservasi yang memiliki ekosistem penting. Karena itu, ancaman kebakaran di wilayah tersebut tidak hanya berkaitan dengan kerusakan vegetasi, tetapi juga dapat berdampak pada habitat satwa dan keberlangsungan ekosistem.

Jalur Bombana-Kendari yang melewati kawasan padang savana juga memiliki aktivitas lalu lintas masyarakat yang cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat edukasi kepada pengguna jalan menjadi salah satu pendekatan yang dinilai penting untuk meningkatkan kesadaran terhadap risiko kebakaran.

Melalui pembagian brosur “Stop Karhutla”, petugas menyampaikan pesan sederhana agar masyarakat lebih berhati-hati selama musim kemarau. Pesan tersebut diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya dalam menjaga lingkungan ketika berada di kawasan rawan kebakaran.

Menurut BPBD, pencegahan tidak akan berjalan maksimal apabila hanya dilakukan oleh petugas. Upaya tersebut membutuhkan partisipasi masyarakat untuk menjaga lingkungan, menghindari aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, serta segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda kebakaran.

Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi petugas untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. Edukasi secara tatap muka diharapkan membuat pesan pencegahan lebih mudah diterima dibandingkan hanya melalui imbauan tertulis atau informasi yang disampaikan melalui media.

Awang mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa menjaga kawasan dari kebakaran merupakan kepentingan bersama. Kebakaran yang terjadi di kawasan konservasi dapat memberikan dampak yang luas dan membutuhkan penanganan lebih besar apabila terlambat diketahui.

Karena itu, kewaspadaan harus dimulai dari hal-hal sederhana. Pengguna jalan diimbau tidak membuang benda yang dapat memicu api, sementara masyarakat yang melakukan aktivitas di sekitar kawasan harus memastikan tidak meninggalkan sumber api yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

Selain pencegahan, keberadaan personel gabungan juga menjadi bagian dari kesiapan menghadapi kemungkinan terjadinya Karhutla. BPBD bersama unsur terkait dapat bergerak apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan di lapangan.

Sinergi tersebut menjadi penting mengingat penanganan kebakaran membutuhkan sumber daya manusia, peralatan, serta koordinasi yang baik. Setiap unsur memiliki peran dalam mendukung upaya pencegahan maupun penanganan apabila kebakaran terjadi.

Keterlibatan Manggala Agni, misalnya, memperkuat dukungan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Sementara TNI dan Polri turut mendukung kegiatan lapangan, sedangkan Damkar memiliki kapasitas dalam penanganan kebakaran.

BPBD sendiri memiliki peran dalam koordinasi penanggulangan bencana, termasuk meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan langkah pencegahan terhadap berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di wilayah Bombana.

Melalui kegiatan show of force ini, pemerintah daerah ingin memastikan pesan pencegahan Karhutla sampai langsung kepada masyarakat. Sosialisasi di kawasan padang savana juga menjadi pengingat bahwa musim kemarau membutuhkan kewaspadaan yang lebih tinggi dari semua pihak.

Masyarakat yang melintasi jalur Bombana-Kendari maupun sebaliknya diharapkan dapat ikut menjaga kawasan tersebut. Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dengan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api dan segera melaporkan apabila menemukan kejadian yang mencurigakan.

Upaya pencegahan menjadi semakin penting karena penanganan kebakaran setelah api meluas membutuhkan sumber daya yang lebih besar. Sebaliknya, kebakaran yang diketahui sejak awal memiliki peluang lebih besar untuk dikendalikan sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.

BPBD Bombana berharap kegiatan sosialisasi tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat selama musim kemarau. Pesan “Stop Karhutla” diharapkan tidak berhenti pada pembagian brosur, tetapi menjadi bagian dari kesadaran masyarakat dalam menjaga kawasan hutan dan lahan.

Pada akhirnya, pencegahan Karhutla bukan hanya menjadi tugas pemerintah dan petugas. Masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam menjaga kawasan dari ancaman kebakaran, terutama melalui perilaku yang lebih berhati-hati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dengan sinergi BPBD, TNI, Polri, Damkar, Manggala Agni, dan masyarakat, potensi Karhutla di Kabupaten Bombana diharapkan dapat ditekan. Kesiapsiagaan bersama menjadi kunci untuk melindungi kawasan TNRAW dan lingkungan sekitarnya dari ancaman kebakaran selama musim kemarau.




BPBD Bombana Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla, Nomor Layanan Darurat Disosialisasikan

Bombana, sultranet.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana bersama TNI, Polri, Pemadam Kebakaran (Damkar), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dan Manggala Agni memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kekeringan selama musim kemarau. Kesiapan personel dan sarana pendukung dipastikan melalui apel bersama sebelum pelaksanaan Show of Force Penanganan Karhutla di sejumlah wilayah rawan, Jumat (4/9/2026).

Apel yang berlangsung di halaman Polres Bombana tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum personel gabungan turun ke lapangan. Kegiatan Show of Force akan menyasar kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) atau kawasan PPA serta sejumlah wilayah lain yang memiliki potensi terdampak kebakaran hutan dan lahan maupun kekeringan.

Dalam apel tersebut, seluruh personel mendapat pengecekan kesiapan, baik dari sisi jumlah personel maupun kelengkapan peralatan yang akan digunakan di lapangan. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan seluruh unsur yang terlibat dapat bergerak secara cepat ketika menghadapi kondisi darurat.

Kesiapan tersebut menjadi penting karena musim kemarau dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama di kawasan dengan vegetasi yang mudah terbakar. Kondisi kering juga dapat memperbesar potensi meluasnya api apabila tidak segera ditangani.

Kepala BPBD Kabupaten Bombana, Drs. Hasdin Ratta, M.Si., mengatakan kegiatan Show of Force tidak hanya diarahkan untuk menunjukkan kesiapan personel dan peralatan. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya Karhutla sekaligus memperkenalkan akses layanan darurat yang dapat digunakan ketika terjadi kejadian yang membutuhkan penanganan cepat.

“Kegiatan Show of Force yang akan kita lakukan ini bukan hanya mengedukasi masyarakat tentang kebakaran hutan dan lahan. Di kesempatan ini, kita juga bisa mensosialisasikan secara langsung kepada masyarakat bahwa di Kabupaten Bombana terdapat beberapa nomor layanan darurat yang bisa dihubungi kapan saja, 24 jam, untuk pengaduan maupun layanan informasi apabila terjadi keadaan darurat,” jelas Hasdin Ratta.

Menurut Hasdin, informasi mengenai layanan darurat perlu diketahui masyarakat secara luas. Kecepatan laporan menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan bencana karena informasi yang diterima lebih awal dapat membantu petugas menentukan langkah penanganan di lapangan.

Karena itu, kegiatan Show of Force akan diisi dengan edukasi dan sosialisasi langsung kepada masyarakat. Petugas akan menyampaikan imbauan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama selama musim kemarau.

Petugas juga akan membagikan brosur bertuliskan “Stop Karhutla” kepada masyarakat dan pengguna jalan. Materi tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat agar masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya di sekitar kawasan hutan dan lahan yang berada dalam kondisi kering.

Selain imbauan pencegahan, masyarakat juga akan diperkenalkan dengan sejumlah nomor layanan yang dapat digunakan ketika membutuhkan bantuan. Informasi tersebut dinilai penting karena dalam situasi darurat masyarakat membutuhkan akses komunikasi yang cepat dan mudah.

Nomor layanan darurat yang disosialisasikan meliputi layanan darurat Polisi 110, layanan darurat Kabupaten Bombana 112, Call Center BPBD Bombana 0813 3366 2022, serta Call Center Damkar Bombana 0823 4796 0011.

Hasdin menjelaskan, keberadaan sejumlah saluran komunikasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat menentukan pihak yang harus dihubungi ketika menghadapi kondisi darurat. Masyarakat dapat melaporkan kejadian sedini mungkin agar petugas terkait dapat segera memberikan respons sesuai jenis kejadian.

“Nomor layanan ini penting untuk diketahui masyarakat, sehingga ketika terjadi keadaan yang membutuhkan penanganan cepat, masyarakat tidak bingung harus menghubungi siapa,” kata Hasdin.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Aktivitas yang dapat memicu api, termasuk pembakaran terbuka yang tidak terkendali, perlu dihindari karena kondisi lingkungan yang kering dapat membuat api mudah menyebar.

Menurutnya, pencegahan Karhutla tidak dapat hanya mengandalkan petugas. Masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan sekitar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kondisi yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran.

Keterlibatan masyarakat sejak tahap pencegahan dinilai dapat membantu mengurangi risiko kebakaran. Semakin cepat potensi kebakaran diketahui, semakin besar peluang petugas melakukan penanganan sebelum api meluas.

Dalam pelaksanaan Show of Force, personel gabungan juga akan memberikan edukasi kepada masyarakat di lokasi yang menjadi sasaran kegiatan. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pesan pencegahan lebih mudah dipahami karena disampaikan langsung kepada warga dan pengguna jalan.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah dan aparat dalam menghadapi ancaman bencana. BPBD, TNI, Polri, Damkar, Satpol PP, dan Manggala Agni memiliki peran masing-masing dalam mendukung kesiapsiagaan dan penanganan di lapangan.

Kesiapan personel menjadi salah satu bagian penting dari strategi tersebut. Dengan melakukan pengecekan sebelum kegiatan, setiap unsur diharapkan memahami tugas dan tanggung jawabnya sehingga koordinasi dapat berjalan lebih efektif ketika berada di lapangan.

Begitu pula dengan kesiapan sarana dan peralatan. Peralatan yang tersedia harus dipastikan dapat digunakan ketika dibutuhkan, terutama untuk mendukung respons awal terhadap kebakaran yang terjadi di kawasan rawan.

Kawasan TNRAW menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut karena merupakan kawasan konservasi yang memiliki ekosistem penting. Ancaman kebakaran di kawasan tersebut tidak hanya berdampak pada vegetasi, tetapi juga dapat mengganggu habitat satwa dan keseimbangan lingkungan.

Karena itu, langkah pencegahan menjadi bagian penting dalam perlindungan kawasan. Edukasi kepada masyarakat di sekitar kawasan rawan diharapkan dapat mengurangi aktivitas yang berpotensi menjadi sumber kebakaran.

Selain Karhutla, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi dampak kekeringan. Musim kemarau dapat memunculkan berbagai persoalan, termasuk berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah.

Dengan kesiapan lintas instansi, pemerintah daerah berharap potensi dampak kekeringan dapat diantisipasi lebih awal. Pemantauan kondisi wilayah dan komunikasi dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan setiap perkembangan dapat segera diketahui.

Hasdin menekankan bahwa penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Petugas pemerintah dan aparat dapat melakukan penanganan, tetapi pencegahan akan lebih efektif apabila masyarakat turut menjaga lingkungan dan memahami langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.

“Yang paling penting adalah masyarakat mengetahui bagaimana mencegah kebakaran dan ke mana harus melapor ketika menemukan kejadian. Jangan menunggu api membesar baru melapor,” ujarnya.

Melalui kegiatan Show of Force tersebut, pemerintah daerah ingin memastikan kesiapan petugas sekaligus membangun kesadaran masyarakat. Pesan yang disampaikan tidak hanya mengenai bahaya Karhutla, tetapi juga pentingnya respons cepat ketika terjadi keadaan darurat.

Pengenalan nomor layanan darurat menjadi bagian dari upaya memperpendek jalur komunikasi antara masyarakat dan petugas. Dengan informasi yang jelas, masyarakat dapat segera menyampaikan laporan dan petugas dapat menentukan langkah penanganan berdasarkan informasi yang diterima.

Sinergi lintas sektor tersebut diharapkan terus diperkuat selama musim kemarau. Kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi dimulai dari pencegahan, edukasi, pemantauan, hingga kesiapan personel dan peralatan.

Pemerintah Kabupaten Bombana bersama seluruh unsur yang terlibat juga mengajak masyarakat menjadi bagian dari upaya pencegahan Karhutla. Kesadaran untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran dan keberanian untuk segera melapor menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar.

Dengan kesiapan personel, dukungan peralatan, koordinasi lintas instansi, serta partisipasi masyarakat, potensi kebakaran hutan dan lahan di Bombana diharapkan dapat ditekan. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya melindungi kawasan konservasi, permukiman, lahan masyarakat, dan lingkungan dari dampak kebakaran dan kekeringan.




BPBD Bombana Padamkan Kebakaran Lahan 10 Hektare di Desa Tahiite

Bombana, sultranet.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana bersama TNI, Polri, dan warga berhasil memadamkan sejumlah titik api yang membakar area perkebunan jati di Desa Tahiite, Kecamatan Rarowatu, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Senin (31/8/2026).

Kebakaran tersebut diperkirakan menghanguskan area perkebunan seluas sekitar 10 hektare. Sejumlah titik api ditemukan tersebar di kawasan perkebunan sehingga petugas harus bergerak cepat untuk mengendalikan api agar tidak menjalar ke area lainnya.

Penanganan dilakukan setelah adanya informasi mengenai kebakaran lahan di wilayah Desa Tahiite. Personel BPBD Bombana bersama aparat TNI dan Polri serta masyarakat setempat langsung melakukan upaya pemadaman di sejumlah titik yang terbakar.

Petugas tidak hanya berupaya memadamkan api, tetapi juga melakukan pengendalian terhadap area yang berpotensi menjadi jalur penyebaran api. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kobaran kembali meluas, terutama pada bagian lahan yang masih memiliki potensi terbakar.

Kondisi kebakaran lahan menjadi perhatian karena area yang terdampak cukup luas. Dengan perkiraan mencapai 10 hektare, penanganan membutuhkan koordinasi dan kerja sama dari berbagai unsur di lapangan.

Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam proses penanganan. Warga membantu petugas dalam melakukan pemadaman sekaligus memberikan informasi mengenai kondisi dan titik-titik api yang ditemukan di sekitar kawasan perkebunan.

Sinergi antara BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat tersebut mempercepat proses pengendalian kebakaran. Kolaborasi lintas unsur juga membantu petugas menjangkau dan memantau sejumlah lokasi yang memiliki potensi munculnya kembali titik api.

Setelah sejumlah titik api berhasil dipadamkan, petugas BPBD Bombana tetap melakukan pemantauan di sekitar lokasi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau titik api baru yang dapat kembali memicu kebakaran.

Pemantauan pascapemadaman menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran lahan. Api yang terlihat sudah padam dapat kembali muncul apabila masih terdapat bara atau bagian lahan yang memiliki suhu tinggi dan belum sepenuhnya aman.

Karena itu, petugas memastikan kondisi di lokasi benar-benar terkendali sebelum penanganan dinyatakan selesai. Pengawasan juga dilakukan terhadap area yang berada di sekitar titik kebakaran untuk mengantisipasi kemungkinan api kembali menyebar.

Kepala BPBD Kabupaten Bombana Hasdin Ratta, M.Si., mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan. Menurutnya, kondisi cuaca dan lahan yang mudah terbakar dapat meningkatkan risiko kebakaran apabila tidak disertai kewaspadaan masyarakat.

“Masyarakat kami imbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, terutama pada kondisi cuaca yang membuat lahan mudah terbakar,” ujar Hasdin.

Ia meminta masyarakat tidak menganggap remeh munculnya api di kawasan perkebunan maupun lahan terbuka. Api yang awalnya berada pada satu titik dapat dengan cepat meluas apabila kondisi lingkungan mendukung penyebaran kebakaran.

Hasdin juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau tanda-tanda kebakaran lahan. Pelaporan lebih awal dinilai dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih besar.

“Jika masyarakat menemukan titik api atau indikasi kebakaran lahan, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas ke wilayah lainnya,” katanya.

Menurutnya, pencegahan kebakaran lahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas penanggulangan bencana. Peran masyarakat sangat diperlukan, terutama karena masyarakat merupakan pihak yang paling dekat dengan lokasi perkebunan dan lahan yang berpotensi mengalami kebakaran.

Kewaspadaan masyarakat juga diperlukan dalam aktivitas sehari-hari di sekitar lahan perkebunan. Penggunaan api yang tidak terkendali dapat menjadi salah satu faktor yang memicu kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering.

BPBD Bombana terus mendorong masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan dan segera berkoordinasi dengan petugas apabila menemukan kondisi yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pencegahan dan respons cepat terhadap bencana kebakaran lahan.

Kebakaran di Desa Tahiite menjadi pengingat bahwa penanganan kebakaran lahan membutuhkan respons cepat sejak api pertama kali ditemukan. Semakin cepat informasi diterima dan tindakan dilakukan, semakin besar peluang api dapat dikendalikan sebelum menjangkau area yang lebih luas.

Selain pemadaman, pemantauan secara berkelanjutan juga diperlukan untuk memastikan kondisi lahan benar-benar aman. Petugas perlu memastikan tidak ada titik api yang tersisa maupun potensi munculnya kembali kobaran di lokasi yang sebelumnya terbakar.

Kerja sama antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting dalam menghadapi ancaman kebakaran lahan di Bombana. Kolaborasi tersebut tidak hanya dibutuhkan saat kebakaran terjadi, tetapi juga dalam upaya pencegahan dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

Dengan berhasil dikendalikannya sejumlah titik api di Desa Tahiite, BPBD Bombana mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Kewaspadaan dan pelaporan cepat menjadi langkah sederhana yang dapat membantu mencegah kebakaran berkembang dan mengurangi risiko kerugian yang lebih besar.

Pemerintah daerah melalui BPBD juga mengajak masyarakat menjadikan keselamatan dan kelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab bersama. Pencegahan sejak dini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan menunggu kebakaran meluas dan membutuhkan penanganan yang lebih besar.




Pemkab Bombana Mulai Identifikasi Sumber Mata Air di Kabaena, Antisipasi Dampak Tambang

Bombana, sultranet.com – Pemerintah Kabupaten Bombana mulai melakukan langkah awal identifikasi sumber mata air di seluruh desa dan kelurahan di Pulau Kabaena sebagai upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air dan mengantisipasi dampak aktivitas pertambangan, melalui rapat koordinasi yang dipimpin Wakil Bupati Bombana Ahmad Yani bersama camat, lurah, dan kepala desa se-Kabaena di Ruang Rapat Bupati Measa Laro, Senin (30/3/2026).

Rapat koordinasi ini menjadi bagian dari respon pemerintah daerah terhadap munculnya sejumlah sumber mata air baru yang diduga berkaitan dengan aktivitas pertambangan di wilayah tersebut. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap potensi perubahan struktur tanah, kualitas air, hingga dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Dalam forum tersebut, pemerintah daerah menegaskan pentingnya langkah identifikasi yang terencana dan berbasis data. Seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah kecamatan dan desa, diminta berperan aktif dalam proses pendataan di lapangan.

Wakil Bupati Bombana Ahmad Yani dalam arahannya menekankan bahwa proses identifikasi harus dilakukan secara cermat dan sistematis. Menurutnya, data yang dihasilkan nantinya akan menjadi dasar penting dalam menentukan kebijakan penanganan yang tepat.

“Pendataan harus dilakukan secara teliti dan melibatkan semua unsur di tingkat kecamatan dan desa agar hasilnya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Ahmad Yani.

Ia juga menegaskan bahwa keterlibatan aparat wilayah menjadi kunci dalam memastikan kelancaran proses identifikasi. Selain memahami kondisi lapangan, pemerintah desa dan kelurahan dinilai memiliki peran strategis dalam mengumpulkan informasi yang valid dari masyarakat.

Lebih lanjut, Ahmad Yani mengingatkan bahwa isu sumber mata air tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air, tetapi juga menyangkut aspek lingkungan yang lebih luas. Oleh karena itu, pemerintah daerah mendorong agar kegiatan ini dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai sektor terkait.

“Koordinasi lintas sektor sangat penting agar kegiatan ini tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan ke depan,” katanya.

Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Bombana Syahrun yang turut hadir dalam rapat tersebut menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Ia menilai identifikasi sumber mata air merupakan langkah strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan, khususnya di wilayah kepulauan yang rentan terhadap perubahan ekosistem.

Menurutnya, hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi sumber daya air di Pulau Kabaena. Dengan demikian, pemerintah daerah dapat menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran dalam pengelolaan dan perlindungan sumber air.

Rapat koordinasi juga membahas mekanisme pelaksanaan identifikasi di lapangan, termasuk metode pendataan, pelaporan, serta pengawasan. Pemerintah daerah menekankan pentingnya konsistensi dalam pelaksanaan agar hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Selain itu, pemerintah juga membuka peluang untuk melibatkan pihak lain, seperti tenaga teknis dan ahli lingkungan, guna memastikan proses identifikasi berjalan sesuai standar. Hal ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas data yang dihasilkan.

Pulau Kabaena sendiri merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bombana yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar, termasuk di sektor pertambangan. Namun, aktivitas tersebut juga berpotensi memberikan dampak terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Bombana berharap dapat memetakan kondisi sumber mata air secara lebih jelas dan komprehensif. Data yang dihasilkan nantinya akan menjadi dasar dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air serta memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan. Dengan langkah yang terencana dan kolaboratif, diharapkan potensi dampak negatif dapat diminimalisir, sekaligus mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.