Bombana, sultranet.com – Bupati Bombana Ir. H. Burhanuddin, M.Si., melakukan panen perdana bawang merah di kebun percontohan PKK Desa Watukalangkari, Kecamatan Rarowatu. Panen tersebut menjadi bagian dari uji coba budidaya bawang merah sekaligus tahap awal untuk melihat kesesuaian komoditas tersebut dikembangkan di Kabupaten Bombana, Minggu (13/9/2026).
Bupati Burhanuddin turun langsung memanen bawang merah bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Bombana, Tim Penggerak PKK, serta tim pelaksana pengembangan Desa Sentra Produksi Bawang Merah Berkelanjutan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Universitas Halu Oleo (UHO).
Budidaya bawang merah tersebut dikembangkan melalui demplot atau kebun percontohan PKK Desa Watukalangkari dengan luas sekitar 3 are. Tanaman bawang merah mulai ditanam pada 14 Juli 2026 menggunakan bibit yang didatangkan langsung dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Hasil panen perdana menunjukkan pertumbuhan tanaman yang cukup baik. Dari satu tanaman bawang merah, diperoleh sekitar 9 hingga 12 umbi anakan.
Hasil tersebut menjadi salah satu indikator awal dalam melihat respons tanaman terhadap proses budidaya yang dilakukan di wilayah Bombana. Panen perdana juga memberikan gambaran mengenai potensi bawang merah untuk dikembangkan lebih lanjut melalui pengelolaan kebun percontohan.
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Burhanuddin tidak hanya melihat hasil budidaya, tetapi turut memanen bawang merah secara langsung bersama pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan demplot.
Kegiatan panen berlangsung bersama Ketua TP PKK Kabupaten Bombana Hj. Fatmawati Kasim Marewa, S.Sos., anggota PKK, Sekda Kabupaten Bombana Ir. Syahrun, S.T., M.P.W.K., beserta jajaran, serta tim pelaksana pengembangan Desa Sentra Produksi Bawang Merah Berkelanjutan.
Kehadiran tim dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama UHO menjadi bagian dari proses pengembangan demplot bawang merah yang dilakukan di Desa Watukalangkari.
Kebun percontohan tersebut menjadi ruang uji coba untuk melihat proses budidaya bawang merah secara langsung di wilayah Bombana. Tahapan budidaya mulai dari penggunaan bibit, penanaman, pemeliharaan hingga panen dapat diamati dan dievaluasi berdasarkan kondisi tanaman di lapangan.
Penggunaan bibit dari Kabupaten Enrekang juga menjadi bagian penting dalam uji coba tersebut. Bibit yang didatangkan dari daerah sentra produksi bawang merah digunakan untuk melihat tingkat kesesuaian tanaman dengan kondisi lahan dan lingkungan di Desa Watukalangkari.
Hasil panen perdana selanjutnya dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan budidaya bawang merah di Bombana. Evaluasi diperlukan untuk melihat berbagai aspek, termasuk pertumbuhan tanaman, hasil produksi, proses pemeliharaan serta kondisi budidaya selama tanaman berada di lahan percontohan.
Panen ini sekaligus memberikan pengalaman langsung bagi masyarakat dan anggota PKK yang terlibat dalam pengelolaan kebun percontohan. Masyarakat dapat melihat proses budidaya bawang merah dari tahap awal hingga menghasilkan umbi yang siap dipanen.
Kebun percontohan juga memiliki fungsi sebagai sarana pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat memperoleh gambaran mengenai penggunaan bibit, teknik pemeliharaan tanaman dan hasil yang dapat diperoleh dari budidaya bawang merah.
Pengembangan demplot dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih nyata sebelum komoditas tersebut dikembangkan dalam skala yang lebih luas. Hasil dari lahan percontohan menjadi dasar untuk menilai apakah budidaya bawang merah dapat diterapkan secara berkelanjutan di wilayah Bombana.
Panen perdana di Desa Watukalangkari menjadi bagian dari proses tersebut. Hasil yang diperoleh belum menjadi ukuran akhir pengembangan bawang merah di Bombana, tetapi menjadi data awal yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap proses budidaya.
Pertumbuhan tanaman dengan hasil sekitar 9 hingga 12 umbi anakan per tanaman memberikan gambaran awal yang cukup positif dari uji coba tersebut. Namun, pengembangan lebih lanjut tetap membutuhkan pengamatan dan evaluasi terhadap seluruh proses budidaya.
Pemerintah Kabupaten Bombana bersama pihak yang terlibat dalam pengembangan demplot dapat menggunakan hasil panen tersebut sebagai bahan untuk melihat langkah berikutnya. Evaluasi menjadi penting agar pengembangan komoditas dilakukan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Pengembangan bawang merah melalui kebun percontohan juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal alternatif komoditas pertanian yang dapat dikembangkan di daerah. Pengetahuan yang diperoleh dari demplot dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat apabila budidaya tersebut nantinya dikembangkan lebih luas.
Selain melihat hasil produksi, kegiatan tersebut memperlihatkan pentingnya proses pendampingan dalam pengembangan komoditas pertanian. Keterlibatan pemerintah daerah, PKK, perguruan tinggi dan tim dari kementerian memberikan dukungan dalam proses uji coba dan evaluasi budidaya.
Desa Watukalangkari menjadi salah satu lokasi untuk melihat secara langsung proses pengembangan bawang merah di Bombana. Demplot yang berada di kebun percontohan PKK menjadi tempat untuk menguji tanaman sebelum dilakukan pengembangan pada skala yang lebih besar.
Panen perdana tersebut juga menjadi momentum untuk melihat hasil kerja selama kurang lebih dua bulan sejak bawang merah ditanam pada 14 Juli 2026. Tanaman yang dikembangkan menggunakan bibit dari Enrekang kemudian dipanen untuk mengetahui hasil awal budidayanya.
Dengan adanya hasil panen perdana, proses pengembangan bawang merah di Bombana memasuki tahap evaluasi. Hasil demplot dapat menjadi bahan untuk menentukan kesesuaian budidaya, sekaligus melihat peluang pengembangan bawang merah sebagai salah satu komoditas pertanian di daerah.
Bagi masyarakat, kebun percontohan tidak hanya menjadi tempat menghasilkan tanaman. Demplot juga menjadi ruang belajar untuk memahami tahapan budidaya dan melihat langsung hasil produksi yang dapat diperoleh dari tanaman bawang merah.
Ke depan, hasil evaluasi dari demplot di Desa Watukalangkari dapat menjadi dasar dalam menentukan pola pengembangan yang sesuai dengan kondisi wilayah Bombana. Pengalaman dari panen perdana menjadi bagian dari proses untuk memastikan pengembangan komoditas dilakukan berdasarkan hasil uji coba dan kondisi lapangan.
Panen perdana bawang merah di Desa Watukalangkari dengan demikian menjadi langkah awal dalam melihat potensi budidaya komoditas tersebut di Bombana. Hasil sekitar 9 hingga 12 umbi anakan per tanaman menjadi catatan awal yang dapat dikembangkan melalui evaluasi dan pengamatan lanjutan.
Kegiatan tersebut tidak hanya berakhir pada proses panen. Hasil demplot diharapkan dapat memberikan informasi bagi pengembangan budidaya bawang merah sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat mengenai proses produksi tanaman dari bibit hingga panen.
Dengan pendekatan berbasis uji coba, evaluasi dan pembelajaran di lapangan, pengembangan bawang merah di Bombana dapat dilakukan secara bertahap. Hasil dari kebun percontohan menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana komoditas tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi pertanian di wilayah setempat.









