Konkep, sultranet.com – Ramadhan 1447 Hijriah menjadi momentum bersejarah bagi Desa Lamoluo, Kecamatan Wawonii Barat, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep). Untuk pertama kalinya sejak resmi mekar pada 2008, warga desa tersebut dapat menunaikan salat tarawih di masjid yang dibangun di tanah mereka sendiri, yakni Masjid Jabal Nur.
Meski pembangunan belum sepenuhnya rampung, masjid itu telah difungsikan sejak malam pertama Ramadhan. Suasana haru dan bahagia menyelimuti warga. Takbir menggema dari dalam desa, anak-anak berjalan membawa sajadah, sementara para orang tua menatap bangunan itu dengan penuh rasa syukur.
Masjid Jabal Nur berdiri atas inisiatif dan kepemimpinan Kepala Desa Lamoluo, Ns. Irda Sahwida, S.Kep. Di bawah kepemimpinannya, gagasan menghadirkan rumah ibadah permanen di desa tersebut akhirnya terwujud setelah melalui proses panjang dan penuh tantangan.
Sejak awal, rencana pembangunan masjid bukan perkara mudah. Tidak ada pos anggaran khusus yang tersedia untuk membiayai proyek tersebut. Pemerintah desa harus mencari cara agar cita-cita itu tetap berjalan tanpa membebani keuangan desa secara berlebihan. Dengan pendekatan persuasif dan semangat gotong royong, partisipasi masyarakat pun mulai terbangun.
Warga menyumbangkan tenaga, pikiran, dan rezeki sesuai kemampuan masing-masing. Tidak hanya masyarakat Lamoluo, sejumlah warga dari desa sekitar turut membantu. Proses pembangunan dilakukan secara bertahap. Fondasi dicor, tiang-tiang berdiri, dinding mulai tersusun, hingga akhirnya atap terpasang dan bangunan dapat difungsikan.
“Ini bukan hanya tentang bangunan fisik. Ini tentang mimpi yang diwujudkan bersama oleh seluruh masyarakat,” ujar Irda Sahwida saat ditemui usai salat tarawih perdana di masjid tersebut. Senin (2/3)
Menurutnya, kehadiran masjid merupakan kebutuhan mendasar bagi desa yang terus bertumbuh. Selain sebagai tempat ibadah, masjid diharapkan menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak, ruang musyawarah warga, serta wadah mempererat ukhuwah Islamiyah.
Sejak mekar hampir dua dekade lalu, Desa Lamoluo terus berbenah. Pergantian kepemimpinan menjadi bagian dari dinamika pembangunan desa. Setiap kepala desa memiliki peran dan kontribusi masing-masing dalam memajukan wilayah tersebut. Namun, tahun 2026 menjadi babak baru yang dinilai masyarakat sebagai lompatan penting dalam pembangunan spiritual desa.
Warga setempat, Ahmad (45), mengaku bangga dan terharu dapat merasakan Ramadhan di masjid desa sendiri. Selama ini, sebagian warga harus menempuh jarak ke desa lain untuk melaksanakan salat berjamaah di masjid yang lebih representatif.
“Sekarang kami sudah punya masjid sendiri. Rasanya berbeda. Lebih dekat, lebih hangat, dan lebih terasa kebersamaannya,” katanya.
Ke depan, pemerintah desa bersama masyarakat berkomitmen menyelesaikan seluruh tahapan pembangunan hingga tuntas, termasuk penyempurnaan interior dan fasilitas pendukung lainnya.
Masjid Jabal Nur kini berdiri bukan sekadar sebagai bangunan ibadah, tetapi simbol kebersamaan dan kemajuan Desa Lamoluo. Ia menjadi penanda bahwa desa tersebut tidak hanya berkembang secara administratif, tetapi juga bertumbuh dalam nilai, spiritualitas, dan jati diri masyarakatnya.
Ramadhan 1447 Hijriah pun tercatat sebagai tonggak sejarah baru. Dari desa yang mekar dengan segala keterbatasan, Lamoluo kini menyalakan cahayanya sendiri—cahaya yang lahir dari persatuan, gotong royong, dan keyakinan bahwa mimpi besar dapat diwujudkan bersama.
Laporan: Aldi Dermawan









