“EMAS HIJAU” Menjamur di Bombana

  • Whatsapp

Rumbia, SultraNET. | etelah Bombana saat itu diberi slogan tersendiri sebagai “Negeri Penghasil Emas, karena kandungan Emas murni kekuningan yang telah menghebohkan masyarakat lokal bahkan Manca Negara sejak 2008 silam, hingga harus borbondong – bondong untuk datang mendulang emas di jazirah Bombana.

kini, Emas Hijau pun tengah menjamur dan menjadi keasyikan tersendiri bagi masyarakat, karena dirasakan cukup signifikan telah terbukti mendokrak pendapatan ekonomi masyarakat petani didaerah ini, khusnya masyarakat petani di poleang.

Bukan Emas Sebenarnya, melainkan “Emas Hijau” dimaksud adalah Tanaman Nilam, yang Sari patinya tidak lain adalah bahan utama pembuatan parfum dan wangi wangian, sehingga Nilam menjadi tanaman budidaya tersediri oleh para petani. Selain harganya jualnya yang tegolong mahal, biayanya pun jauh lebih murah dari budidaya tanaman lainnya seperti padi, sehingga diyakini cukup membantu meningkatkan taraf hidup ekonomi masyarakat.

Salah satu pelaku budidaya Tanaman Nilam di Poleang Utara, H. Mustafa, saat ditemui fajarbombana.com, Senin (5/9) menuturkan, jika tanaman nilam jauh lebih ekonomis dibandingakan komoditi lain seperti padi, kelapa, dan kakao. Namun begitu, menurutnya bukan berarti harus melupakan komoditi yang lain, sebab tidak semua kontur tanah dapat ditumbuhi tanaman Nilam.

“biayanya relative murah dan hasil panen juga memuaskan. Jadi nilam sekarang itu jadi tanaman primadona karena harganya mahal. ”Tutur H. Mustafa.

Mustafa yang tidak lain adalah Sekretaris Kecamatan Poleang Utara itu, mulai merinci perhitungan hasil panen dan biaya yang dikeluarkan dalam budidaya tanaman nilam. Menurutnya, dalam setiap 22 karung Rumput Nilam, setelah melalui penyulingan dapat menghasilkan 12 kg minyak nilam, dalam satu kilo gramnya, minyak nilam dihargai hingga Rp. 470.000 untuk saat ini. Sementara biaya yang dikeluarkan petani hanya berkisar Rp. 700.000 an.

“Sehingga wajar kalau tanaman nilam itu disebut Emas Hijau oleh masyarakat kami disini. “pungkasnya

Sementara itu, Camat Kec. Totonunu Muhulifu, SP, turut membenarkan hal itu. Bahkan menurutnya, dari banyaknya komoditas pertanian dan perkebunan di wilayah oritasnya itu, seperti kakao dan kelapa sawit, nilam masih menjadi komoditas unggulan para petani.

Bahkan, rencana tahun 2017 mendatang, pihaknya akan membentuk Badan Usaha Milik Desa yang anggaranya bisa diserap melaului shering dana Desa dan anggaran Kecamatan.

“tujuannya semata-mata untuk membantu para petani dalam hal permodalan. Sekaligus melindungi stabilitas harga jual hasil panen petani. ”Terang Muhulifu

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *